LANGIT7.ID, Jakarta - Menuntut ilmu merupakan satu kewajiban penting bagi setiap umat Islam. Ilmu merupakan jembatan untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya. Ilmu pula yang mengenalkan manusia pada kewajiban-kewajiban sebagai khalifah di muka bumi.
Seorang penuntut ilmu kerap bingung dengan urutan cabang ilmu yang harus dipelajari, mana yang harus didahulukan dan mana yang harus diakhirkan. Ustadz Miftahussurur, dalam salah satu kajiannya, menyebutkan ada empat tahapan seorang penuntut ilmu dalam mempelajari agama Islam.
Baca juga: Santri di Afrika Belajar Al-Quran Bukan di Mushaf, tapi Papan KayuTahapan-tahapan tersebut dimulai dari hal paling pokok dalam agama Islam hingga ilmu yang berkaitan dengan interaksi antara hamba dan Rabb-nya. Berikut ini empat tahapan tersebut:
1. TauhidTauhid yang harus terpatri di dalam hati setiap muslim. Semua ilmu berada di bawah tauhid. Setiap muslim harus mengetahui siapa Tuhan semesta alam, Asmaul Husna dan sifat-sifat-Nya, begitu pun ilmu tentang Rasulullah SAW.
“Kita juga harus tahu pembatal-pembatal keislaman. Kita harus paham arti syahadat, syarat-syarat syahadat, konsekuensi dari syahadat. Tauhid paling pertama,” kata Ustadz Miftahussurur.
Dalam belajar tauhid atau akidah bisa memulai dengan mempelajari
Kitab Al-Ushul Ats Tsalatsah karya Imam Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (w. 1206). Dalam kitab ini Banyak ilmu tentang akidah.
Kemudian dilanjutkan dengan mempelajari
Al Qawaid Al Arba’,
Kasyfus Syubhat, dan
Risalah Ushulil Iman. Setelah itu, bisa pindah ke kitab lebih tinggi seperti kitab
Al-Aqidah Al-Wasithiyyah karya Imam Mujaddid Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah. Lalu dilanjutkan dengan Kitab
Al-Hamawiyyah dan
At-Tadmuriyyah, lalu
Aqidah Ath-Thahawiyyah.
2. TafsirKitab tafsir penting dipelajari untuk memahami firman-firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Ada dua kitab santri yang sering diajarkan di pesantren-pesantren yakni
Tafsir Ibnu Katsir dan Kitab
Tafsir As-Sa’di.
Ada pula kitab-kitab tafsir lain yang direkomendasikan seperti
Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir oleh Muhammad Nasib Ar Rafi’i. Ada pula
Tafsir Al-Baghawi, kitab
Tafsir Al-Qurthubi,
Tafsir Ibnu Jauzi, dan
Tafsir Asy-Syaukani.
3. HaditsDalam ilmu hadits bisa memulai dari
Al-Arba’in An Nawawiyah dan
Riyadhus Shalihin karangan Imam Nawawi. Lalu, bisa belajar
Umdatul Ahkam secara bertahap, kemudian Bulughul Maram beserta syarahnya.
Setelah itu dapat mempelajari
Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dan
Kutubus Sittah.
Baca juga: Cara Mendidik Anak Jika Orang Tua Kurang dalam Ilmu Agama4. FikihMempelajari fikih untuk mengetahui tata cara beribadah kepada Allah dengan mazhab yang ada. Dalam ilmu fikih bisa mempelajari
Umdatul Fiqhi yang merinci masalah furu' atau kitab Zaadul Mustaqni.
Kemudian, ada beberapa kitab syarah yang ditulis ulama masa kini seperti Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin, dalam Kitab
As-Syarh Al-Mumthi’. Dalam buku ini, terdapat pembahasan dan penjelasan bermanfaat yang jarang terjadi.
(jqf)