LANGIT7.ID, Jakarta - Hisab dan Rukyat merupakan metode untuk menentukan awal bulan hijriah dengan memperhitungkan posisi bulan. Lewat perhitungan astronomis dan konfirmasi lapangan dengan melihat langsung maka masuknya awal bulan dapat ditetapkan.
Menurut sains, bulan adalah satelit bumi yang berukuran sekitar seperempat dari ukuran bumi. Ia beredar mengelilingi bumi pada jarak rata-rata 384,400 kilometer di bawah tarikan gaya gravitasi bumi.
Akibat peredarannya inilah bulan mengalami fase-fase dan di antaranya terjadi fenomena bulan sabit, bulan purnama, bulan baru, dan bulan mati. Semuanya terjadi karena posisi bulan dan bumi yang bergeser secara teratur terhadap posisi matahari.
Baca Juga: Bakal Banjir Pesanan di Ramadhan, Pelaku UMKM Bisa Terapkan 5 Tips IniSurat Al-Baqarah ayat 189:
يَسـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ ۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Artinya: Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.”
Dikutip Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan seseorang kepada Rasulullah mengenai keadaan bulan yang selalu berubah-ubah. Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah mengenai bulan sabit, maka turunlah ayat ini.
Abdur Razak meriwayatkan dari Ibnu Umar, katanya, Rasulullah bersabda: "Allah menjadikan bulan sabit sebagai penentu waktu bagi manusia. Maka berpuasalah kalian karena kalian telah melihatnya dan berbukalah karena melihatnya juga. Jika cuaca mendung, maka genapkanlah menjadi 30 hari."
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, dan menurutnya sanad hadits ini shahih, tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan.
Baca Juga: Begini Solusi Menu Makan Tepat Anak Telat SahurDalam Tafsir At-Thabari diuraikan berbagai riwayat mengenai latar belakang turunnya Surat Al-Baqarah ayat 189. Orang-orang bertanya kepada Rasulullah untuk apa bulan diciptakan? Mengapa bulan pada mulanya terlihat seperti sabit, kecil, tetapi dari malam ke malam ia membesar hingga mencapai purnama, kemudian mengecil dan mengecil lagi, sampai menghilang dari pandangan?
Dari Al-Mutsana dari Ishak, dari Ibnu Abi Ja’far dari bapaknya, dari Rabi’ ia berkata, kami mendengar bahwa mereka bertanya kepada Rasulullah, “Apa tujuan diciptakannya bulan?”. Maka Allah menurunkan firman-Nya:
يَسـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ ۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Ia dijadikan oleh Allah sebagai waktu shaum (puasa) bagi umat Islam, waktu berbuka, waktu haji, waktu ibadah, masa `iddah kaum wanita, dan pembayaran utang-piutang mereka, sebagaimana diuraikan Ibnu Hatim dalam tafsirnya.
Baca Juga: Rahasia Penggunaan Kalimat “Kutiba” di Ayat Puasa RamadhanMuhammad Qurais Shihab dalam Tafsir Al Misbah menjelaskan, dengan meilhat bulan, bangsa Arab menentukan penanggalannya, yakni sejak munculnya bulan sabit hingga bulan tampak sempurna sinarnya. Bila bulan sabit tampak seperti garis tipis di ufuk barat, kemudian tenggelam beberapa detik setelah tenggelamnya matahari, ketika itu dapat terjadi rukyat terhadap bulan.
Demikian ditentukan perhitungan waktu melalui bulan, demikian juga diketahui permulaan dan akhir masa pelaksanaan ibadah haji. Penyebutan haji secara khusus untuk menegaskan bahwa ibadah tersebut mempunyai waktu tertentu, tidak boleh diubah dengan mengajukan atau menundanya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.
Lebih lanjut, Qurais Shihab memaparkan, jawaban ilmiah adalah hal teknis yang dapat diungkap oleh akal manusia. Namun, lewat firman-Nya pada Surat Al-Baqarah ayat 189, Allah Swt hendak memberi tahu masalah yang lebih penting yang tidak terungkap oleh akal manusia.
Baca Juga: Manusia Tak Luput Salah dan Dosa, Ini 5 Syarat Bertaubat(zhd)