LANGIT7.ID, Jakarta - Surat Al-Baqarah ayat 177 menguraikan tentang sifat-sifat orang mukmin yang patuh menjalankan syariat. Ibnu Katsir menyebut ayat ini mencakup sendi-sendi yang agung, kaidah-kaidah yang umum, dan aqidah yang lurus.
Allah menjelaskan kepada semua umat manusia, bahwa kebajikan itu bukanlah sekadar menghadapkan muka kepada suatu arah yang tertentu, baik ke arah timur maupun ke arah barat. Kebajikan yang sebenarnya ialah beriman kepada Allah dengan sesungguhnya, yang merupakan kandungan Surat Al-Baqarah ayat 177.
Surat Al-Baqarah ayat 177:
لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
Baca Juga: Amir Faishol Fath, Ulama Tafsir Quran dan Ayah Para HafizArtinya: Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, penafsiran Al-Baqarah ayat 177 adalah mengenai kebijakan pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram. Sebagian Ahlul Kitab dan kaum muslimin merasa keberatan, maka Allah memberikan penjelasan mengenai hikmah pengalihan kiblat tersebut.
Salah satu hikmah pengalihan kiblat adalah bahwa ketaatan kepada Allah, patuh pada semua perintah-Nya, menghadap ke mana saja yang diperintahkan, dan mengikuti apa yang telah disyariatkan. Inilah yang disebut dengan kebaikan, ketakwaan, dan keimanan yang sempurna.
Menghadap ke arah timur maupun barat tidak dihitung sebagai kebaikan dan ketaatan jika bukan karena perintah dan syariat Allah. Karenanya, Allah berfirman sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 177.
Baca Juga: Tafsir Ali Imran Ayat 134: Karakter Penghuni Surga Ayat ini juga bisa dimaknai bahwa kebajikan itu bukanlah sekadar shalat tanpa dibarengi kekhusyukan dan keikhlasan. Namun, kebajikan yang sesungguhnya itu ialah pada hal-hal yang diuraikan, yakni beriman kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun mengimani hari akhir, malaikat dan rasul-Nya. Mengenai ini, ats-Tsauri mengemukakan: "Demikian' itu adalah mencakup semua jenis kebaikan."
Ibnu Katsir mengomentari bahwa Imam ats-Tsauri memang benar, karena orang yang memiliki sifat yang disebutkan di dalam ayat ini, berarti ia telah masuk ke seluruh wilayah Islam dan mengambil segala bentuk kebaikan, yaitu beriman kepada Allah Ta'ala, yang tiada sesembahan yang hak selain Dia. Serta membenarkan adanya para malaikat yang merupakan para duta yang menghubungkan antara Allah dan para Rasul-Nya.
Kemudian, beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul. Al-Kitab merupakan isim jins (nama jenis) yang mencakup kitab-kitab yang diturunkan dari langit kepada para nabi hingga diakhiri oleh yang termulia di antara kitab-kitab itu, yaitu Al-Qur'an yang menjadi tolok ukur bagi kitab-kitab sebelumnya.
Lalu mengimani keberadaan para nabi-nabi yang selalu menyampaikan kebenaran meskipun banyak yang memusuhinya. Kebajikan orang yang memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat yang kurang mampu, anak yatim, karena mereka sudah kehilangan orang tua, sehingga setiap orang beriman patut memberikan kebaikan kepada mereka.
Inilah pola yang lain lagi, yang sangat tinggi nilainya, yaitu mereka lebih mengutamakan orang lain padahal sebenarnya mereka sendiri sangat membutuhkannya. Mereka menginfakkan dan memberikan makanan yang dicintainya.
Baca Juga: Tafsir Ali Imran 133: Ampunan Allah Seluas Langit dan Bumi Termasuk kepada orang-orang miskin yang hidupnya serba kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, orang-orang yang dalam perjalanan atau musafir yang kehabisan bekal perjalanan, peminta-minta untuk meringankan penderitaan dan kekurangannya, dan untuk memerdekakan hamba sahaya yang timbul akibat praktik perbudakan.
Kebajikan adalah orang yang melaksanakan salat dengan khusyuk dan memenuhi syarat dan rukunnya, menunaikan zakat sesuai ketentuan, dan tidak menunda-nunda pelaksanaannya. Lalu orang-orang yang menepati janji apabila berjanji dan tidak pernah mengingkarinya, orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan dengan segala kesengsaraan, kesedihan dan berbagai macam kekurangan.
Orang yang mempunyai sifat-sifat ini, mereka itulah orang-orang yang benar keimanannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa kepada Allah.
Baca Juga: Mudik Naik Pesawat Wajib e-HAC, Begini Cara Isinya(zhd)