Semarak Ramadhan di Turki: Masjid Ramai hingga Genderang untuk Bangunkan Sahur
MuhajirinSabtu, 09 April 2022 - 13:00 WIB
Shalat Tarawih di Hagia Sophia, Turki (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Jakarta - Turki merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim. Ada banyak tradisi di negara ini yang hanya bisa ditemui pada bulan Ramadhan.
Muhammad Subhan, mahasiswa Süleyman Demirel University, mengungkapkan, ada beberapa persamaan tradisi puasa di Turki dengan Indonesia. Misal, restoran Turki cenderung sepi pada siang hari, tapi jadi ramai menjelang buka puasa.
Ramadhan di Turki juga dianggap sebagai perayaan saat waktu berbuka puasa. Makanan ringan manis disajikan ketika adzan Maghrib tiba. Mirip-mirip di Indonesia, makan malam dihidangkan beberapa jam setelahnya.
Lampu berwarna-warni akan dijumpai di pohon dan bangunan saat malam hari. Masjid tampak menyala dan penuh sesak dengan jamaah. Suasana karnaval di sekitar pusat kota Turki ramai dengan bilik sementara para penjual buku agama, perlengkapan ibadah, makanan ringan, dan barang tradisional lain.
Lewat tengah malam bulan Ramadhan, Turki tak pernah sepi dengan suara drum yang membangunkan warga. Ini merupakan salah satu tradisi paling ikonik di Turki.
“Salah satu tradisi paling ikonik di Turki ialah adanya penabuh genderang Ramadhan menjelang waktu sahur,” kata Subhan kepada LANGIT7.ID, Sabtu (9/4/2022).
Tradisi ini bisa ditemukan di seluruh penjuru Turki. Para penabuh genderang berjalan menyusuri gang-gang kecil dengan drum besar di tangan. Mereka memainkan musik dan menyanyikan syair untuk membangunkan dan menghibur masyarakat sebelum sahur.
“Tradisi ini biasanya ada di kampung-kampung turki, karena di kota sangat jarang ditemukan karena bisa mengganggu masyarakat lain ketika istirahat,” ucap Subhan.
Tradisi lain di adalah drama Karagöz dan Hacivat, wayang kulit era Turki Utsmani. Pertunjukan ini masih dilestarikan hingga saat ini dan dipentaskan pemerintah kota sebagai bagian dari kegiatan Ramadhan.
Musik pengiring di wayang kulit Turki Utsmani ini termasuk sangat sederhana, tidak selengkap gamelan di Jawa. Musik pengiringnya hanya ada tiga jenis yakni peluit kecil (narek), rebana (tef), dan lonceng.
Subhan mengatakan, pertunjukan ini biasanya digelar di taman untuk menyambut buka puasa bersama. Salah satu taman yang paling ramai menjadi destinasi buka bersama adalah pelataran antara Blue Mosque dan Masjid Hagia Sophia.
Tantangan Berpuasa di Turki
Sebagai pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, Subah. Tentu merasakan beberapa tantangan berpuasa di Turki. Jauh dari keluarga dan harus beradaptasi dengan cuaca.
“Menghadapi ujian tengah semester saat berpuasa menjadi tantangan terbesar bagi mahasiswa Indonesia di Turki,” tutur Subhan.
Pertama, masalah waktu. Puasa di Turki sangat berbeda dengan Indonesia yang waktunya stabil dari tahun ke tahun. Di sana, waktu berpuasa bisa mencapai 16 jam, sejak pukul 03.30 sampai 20.30.
Terlebih jika Ramadhan jatuh pada musim panas yang mencapai suhu 38-40 derajat. Cuaca panas itu tidak jauh berbeda dengan negara Timur Tengah.
Kedua, masalah menu sahur. Hampir tidak ada orang Turki yang sahur dengan memakan nasi. Subhan tinggal di apartemen bersama orang Turki, jadi mau tidak mau harus ikut menu makanan mereka.
“Menu sahurnya menu sarapan seperti telur campur tomat, bombay, cabe merah (menemen) dan pastinya harus ada teh. Menu pokoknya roti, dan buah-buahan,” tutur Subhan.
Saat pertama kali datang ke Turki, Subhan mengaku sangat susah beradaptasi dengan makanan di sana. Namun itu sedikit bisa teratasi jika kumpul dengan mahasiswa asal Indonesia. Mereka bisa memasak menu sendiri dan lain sebagainya.
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”