LANGIT7.ID, Jakarta - Hidup sebagai seorang mualaf tidak akan mudah di Belgia. Seperti yang dialami wanita berusia 20 tahun, YentI. Dia lahir sebagai seorang Kristen Katolik di Belgia. Sejak kecil, dia telah memahami sikap masyarakat setempat terhadap umat Islam.
YentI menyebut Islam merupakan agama misterius di Belgia, yang sangat minoritas. Dia tak mengetahui banyak hal tentang Islam. Namun, pandangan itu perlahan berubah saat berbicara dengan seorang muslim melalui internet.
YentI dan temannya, Maya, yang seorang muslim itu saling berbagi persepsi tentang agama. Dia lalu membandingkan ide-ide Kristen dengan ide-ide Islam. Setelah percakapan itu, dia berkesimpulan, Islam merupakan agama yang menarik. Dia terus berbicara dengan orang tersebut dan menanyakan banyak hal. Dari situ dia tertarik dan memeluk agama Islam.
Sejak saat itu, dia taat menjalankan ajaran Islam, termasuk puasa Ramadhan. Dia lalu berbagi kisah saat menjalani Ramadhan pertama, sekaligus motivasi untuk para mualaf di manapun berada.
Sebelum Ramadhan: Banyak pertanyaan dan Rasa Tidak AmanYentI merasa siap beberapa bulan sebelum Ramadhan dimulai. Dia sangat menantikan momen itu. Dia membayangkan bisa terhubung dengan komunitas muslim di Belgia dan mengajukan pertanyaan terkait Ramadhan kepada mereka.
“Banyak dari mereka memberi saya tips dan mendorong saya. Mereka tidak pernah berhenti mendukung saya. Itu terbukti perlu, karena seminggu sebelum Ramadhan dimulai, saya diintimidasi,” kata YentI, dikutip laman
Mvslim, Selasa (12/4/2022).
Baca juga: Ramadhan di Inggris, Shalat Tarawih Tanpa Jarak SosialBersamaan dengan intimidasi tersebut, timbul banyak pertanyaan di benak YantI. Bagaimana jika dia tidak siap? Bagaimana jika dia makan sesuatu secara tidak sengaja? Bagaimana jika dia mendapat banyak kritik?
“Banyak pertanyaan mulai berkecamuk di kepalaku dan aku mulai meragukan diriku sendiri. Tetapi ketika Ramadhan dimulai, setiap potongan teka-teki jatuh pada tempatnya lagi,” kata Yenti.
Menjalankan Puasa Ramadhan PertamaHari pertama berjalan jauh lebih baik dari yang diharapkan. Hal paling sulit adalah saat sore hari menjelang buka puasa. Beberapa saat sebelum matahari terbenam, dia merasa lelah, karena cuaca panas.
Dia memulai hari kedua dengan banyak keberanian. Namun, hari kedua bahkan lebih sulit daripada yang pertama. Dia tidak terbiasa berpuasa dua hari berturut-turut. Tapi meskipun begitu, dia tetap berhasil bertahan hari itu.
“Hari-hari berikutnya berjalan lebih baik, dan setiap hari saya menjadi lebih kuat. Tubuhku mulai terbiasa berpuasa. Saya juga merasa lebih dekat dengan Allah, dan lebih spiritual, seolah-olah Ramadhan membersihkan jiwa saya,” tutur YentI.
Tentu saja, masih ada beberapa momen sulit. Kadang-kadang, dia merasa lapar dan haus, tetapi perasaan itu hilang dengan cepat. Dia mulai menyadari, mempelajari ajaran Islam dan membaca Al-Qur’an ternyata mengusir rasa lapar dan haus.
Kesulitan RamadhanTentu tidak semua hal itu berjalan dengan mudah. Setiap hari, ada saja hal-hal sulit yang terjadi. Hal tersulit bagi YantI adalah mengabari teman-teman nonmuslim bahwa dirinya berpuasa. Itu sulit, sebab banyak masyarakat Belgia beranggapan jika seseorang shalat 5 waktu, membaca Al-Qur’an, dan puasa Ramadhan, berarti sudah sedikit ekstrem.
Kesulitan lain adalah tiba-tiba berhenti minum dan makan seharian penuh, setelah puluhan tahun tidak melakukan itu. Bukan 1-2 hari pula, tapi 30 hari. Pada hari pertama, YantI selalu tergoda untuk mengemil terlebih siang di Belgia cukup panjang dan panas.
“Tapi semakin hari berlalu, semakin mudah. Saya perhatikan bahwa terutama jam-jam terakhir bisa sangat sulit. Waktu terkadang terasa berjalan sangat lambat. Melihat orang lain makan juga bisa jadi sulit. Dalam kasus saya, saya kebanyakan dikelilingi oleh nonmuslim, dan terkadang sulit untuk menolak makan, ketika teman-teman semua sedang makan,” tutur YentI.
Pelajaran Berharga dari RamadhanSelain kesulitan, ada banyak hal positif. Selama Ramadhan, YantI merasa lebih dekat dengan Allah. Dia merasa kembali fitrah (suci) setelah memohon ampun atas segala dosa-dosa. Di sisi lain, komunitas muslim memberikan dukungan penuh padanya.
“Seperti yang saya katakan sebelumnya, siang hari bisa menjadi sulit. Namun setelahnya, saat berbuka puasa dan makan pertama atau minum segelas air putih, rasanya sangat nikmat. Saya sangat bangga dengan diri saya sendiri setiap kali saya berbuka,” ucap YantI.
Tips untuk Mualaf yang Pertama Kali BerpuasaYantI mendapat banyak pelajaran dari puasa Ramadhan. Dia lalu membagikan tips untuk mualaf yang menjalani puasa Ramadhan pertama.
Pertama, hiraukan perkataan orang yang membenci. Selalu ada orang yang tidak menyukai apapun yang kita lakukan. Cukup ikuti kata hati dan lakukan hal-hal yang membuat bahagia.
Kedua, perbanyak minum air putih atau susu saat berbuka puasa atau sahur. Cobalah untuk menghindari soda, dan jangan minum kopi, terutama saat sahur. Jangan minum terlalu cepat juga. Ini mungkin sulit setelah seharian berpuasa, tetapi jika minum terlalu cepat, perut akan mulai sakit.
Baca juga: Ramadhan di Norwegia: Durasi Puasa Lebih Lama dan Tantangan dalam Mendidik Anak“Minum dengan tegukan kecil dan sepanjang malam. Sedangkan untuk makan, makanlah yang banyak mengandung potasium. Kurma adalah cara untuk pergi, tetapi pisang juga sangat sehat. hindari makanan yang asin, karena hanya akan membuat semakin haus,” tutur YentI.
Ketiga, zikir dan ingat Allah ketika tergoda untuk makan atau minum. Mengingat Allah selalu memberi kekuatan untuk tidak menyerah. Ini benar-benar dapat membantu selama jam-jam yang panjang dan panas.
“Solusi lain yang mungkin adalah dengan membaca Al-Qur'an. Itu akan membuat Anda sibuk dan membuat puasa Anda lebih mudah,” kata YentI.
(jqf)