Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Pandemi Jadi Kesempatan Kembalikan Madrasah ke Rumah

Muhajirin Jum'at, 30 Juli 2021 - 06:34 WIB
Pandemi Jadi Kesempatan Kembalikan Madrasah ke Rumah
ilustrasi orang tua mendampingi anak belajar di rumah (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID - Pasti ada hikmah di balik musibah. Termasuk pandemi Covid-19 yang tengah melanda Tanah Air dan seluruh dunia. Salah satu hikmah besar dari pandemi adalah mengembalikan fungsi keluarga sebagai madrasah utama bagi anak-anak.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, DR. Dr.Fidiansjah Sp.KJ.MPH dalam webinar yang digelar oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) bertemakan ‘Wahai Umat, jangan Bersedih’ yang disiarkan melalui akun Youtube AQL Islamic Center, Kamis malam (29/7/2021).

“Ada hikmah di balik musibah. Ini kesempatan sebetulnya untuk mendukung kesehatan jiwa anak dan remaja, dan mengingatkan bahwa madrasah utama adalah keluarga. Sekolah memang alat bantu. Tapi pembelajaran di Covid-19 ini mengingatkan para orang tua untuk kembali kepada hakikat utama yakni madrasah utama adalah keluarga itu sendiri,” kata Dokter Fidiansjah.

Kesadaran keluarga sebagai madrasah utama harus dibarengi dengan kesungguhan hati agar bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru.

“Lepaskanlah segala situasi ini, karena memang kita berada pada situasi harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Hadir dengan kesungguhan hati. Beri anak kesempatan untuk terhubung dengan segala macam interaksi, termasuk kepada keluarga itu sendiri, dan tentu berikan informasi yang tepat,” ucap Dokter Fidiansjah.

Selain itu, dalam menjadikan rumah sebagai madrasah, orang tua perlu komprehensif dalam mendidik anak. Yaitu dengan memperhatikan setiap aspek kecerdasan dalam diri anak agar ia bisa menjadi manusia yang utuh.

“Semua upaya itu harus komprehensif. Kita menggunakan, pertama IQ (kecerdasan intelektual). IQ adalah komponen yang menggunakan akal manusia secara proporsional, baik itu vaksin, metode protokol kesehatan. Itu silahkan IQ yang bekerja,” ucap Dokter Fidiansjah.

Namun IQ ini harus diikuti dengan kecerdasan emosional (EQ). Ini karena IQ tidak akan bisa memberikan hubungan manusia dengan rasa empati dan emosional lainnya. Kemudian kecerdasan adversiti (AQ) yang berhubungan dengan ketangguhan dan daya tahan dalam menghadapi masalah.

“Ketiga kecerdasan ini harus dikemas dengan SQ (kecerdasan spiritual) agar mereka (anak-anak) terarah. Kita tahu bahwa ketika IQ dominan, bansos saja bisa ditilep. Maka itu, semua komponen kecerdasan yang dimiliki oleh tiga aspek kecerdasan yang lain tidak boleh terlepas dari SQ. Jadi keseimbangan antara berdzikir dan tafakur dengan keempat kecerdasan ini harus betul-betul berjalan beriringan,” kata Dokter Fidiansjah.

Belajar Daring dan Kesehatan Jiwa

Saat ini, anak-anak tengah menjalani pembelajaran daring. Metode pembelajaran itu memberi dampak pada anak. Diantaranya jika tidak dikelola dengan baik akan muncul konflik antara anak dengan orang tua. Begitupun orang tua yang WFH bisa saja konflik dengan anak yang sedang belajar daring.

Maka orang tua perlu memperhatikan dampak dari belajar daring agar bisa mengelolanya dengan baik. Diantaranya ia memberi dampak pada kesehatan jiwa. Beberapa risiko masalah kesehatan jiwa pada anak saat belajar di rumah seperti pikiran-pikiran negatif, kejenuhan atau kebosanan, stres, kecemasan, depresi, upaya bunuh diri, terpapar adiksi pornografi, adiksi gawai, kekerasan rumah tangga, hingga pola pengasuhan anak yang salah.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menangani masalah kesehatan jiwa. Diantaranya jika ditemukan masalah jiwa seperti kegalauan dan depresi segera cari pertolongan pada tim kesehatan yang terdekat. Pemerintah juga telah memberikan layanan telepon: 119 extension 8. Selain itu, konsultasi langsung ke dokter umum dan spesialis masalah kesehatan fisik dan kejiwaan melalui aplikasi.

Dokter Fidiansjah menyimpulkan, bahwa segala upaya mengatasi masalah pasti kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Kemudian hal itu akan menghasilkan reaksi antara usaha-usaha terapis yang sedang dijalankan dengan klien dan lingkungan. Semua itu berhubungan sunnatullah. Maka nanti akan ketemu beragam manfaat yang disebut hikmah di balik musibah.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155).

“Yakinlah, ketika ini dilalui dengan semua dinamika seperti kecemasan dan kesedihan tapi yakin Allah mengatakan dalam surah Fussilat ayat 31 bahwa Allah akan mengirim malaikat-malaikatNya agar mereka tidak mengalami ketakutan dan kesedihan. Bersyukurlah, gunakan semua potensi yang dimiliki, jangan mencari dan menuntut yang tidak ada, agar kita selalu bersyukur dan bersabar dalam menyikapi pandemi ini,” pungkas Dokter Fidiansjah.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan