LANGIT7.ID, Jakarta - Ustadz Bilal Attaki, yang merupakan adik kandung Ustadz Hanan Attaki, membagikan tips bagi para imam pemula jika ditunjuk menjadi imam shalat tarawih. Shalat tarawih merupakan ibadah sunnah yang dianjurkan pada setiap malam Ramadhan. Ibadah ini pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW dan dipopulerkan oleh Khalifah Umar bin Khattab.
Dalam sebuah hadits, diriwayatkan bahwa Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah SAW menganjurkan qiyam (shalat) Ramadhan kepada mereka (para sahabat), tanpa perintah wajib. Beliau bersabda, ‘Barangsiapa mengerjakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, niscara diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari-Muslim).
Baca juga: Bolehkah Mempercepat Shalat Tarawih tanpa Shalat Badiyah Isya?“Di antara keutamaan shalat tarawih bukan hanya jumlah rakaat saja, tapi yang terpenting adalah bacaan atau tilawah imam. Bagaimana seorang imam mampu membacakan Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, dengan suara indah, tentu shalat tarawih akan terasa lebih nikmat,” kata Bilal Attaki di kanal
Ngaji Santai, dikutip Kamis (14/4/2022).
Bilal Attaki lalu menyebut ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat menjadi imam.
Pertama, surah berurutan. pastikan surah dibaca adalah surah berurutan. Misal rakaat pertama membaca Surah Adh-Dhuha, setelahnya boleh membaca Surah Asy-Syarh atau At-Tin. Tidak dianjurkan rakaat pertama baca surah At-Tin lalu surah kedua membaca surah Adh-Dhuha. Jadi, bacaan mesti berurutan, dari depan ke belakang.
Kedua, irama takbir. Ketika memulai takbir, irama takbir harus sinkron dengan irama ayat yang akan dibaca. Misal ketika ingin membaca dengan irama kurdi, takbir pun harus menggunakan irama kurdi. Begitu pun dengan takbir seterusnya.
Baca juga: Berapa Kelipatan Pahala Shalat Tarawih Berjamaah?Ketiga, mengatur suara. Usahakan karakter suara kita tidak
over di awal. Saat memimpin shalat, rakaat pertama, kedua, dan ketiga cukup menggunakan suara dan irama santai saja. Tidak perlu improvisasi atau suara tinggi.
“Suara tinggi kita simpan untuk rakaat ketujuh dan kedelapan, atau rakaat akhir. Ini agar suara kita tetap awet, jamaah juga merasakan makin nambah rakaat makin nikmat shalatnya,” kata Bilal Attaki.
(jqf)