LANGIT7.ID, Jakarta - Direktur PUSAD Paramadina, Ihsan Ali Fauzi, menjelaskan, sikap toleransi bisa diukur dari sikap menerima perbedaan yang dimiliki orang lain.
“Jika terdapat perbedaan namun sulit mencari irisan, maka keberadaan orang lain akan menjadi beban. Tetapi, jika perbedaan bisa dinegosiasikan, maka akan sangat bagus,” kata Ihsan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (18/4/2022).
Ihsan menyebut dua cara agar sikap toleransi bisa diterapkan di tengah masyarakat.
Pertama, kesediaan untuk memberi izin (
permission) kepada orang lain. Terutama kepada kelompok lemah yang bisa ditoleransi keberadaannya. Biasanya, pemberian izin bisa terjadi, namun disertai beberapa syarat tertentu.
Baca juga: Tiga Perempuan Hebat Ini Ekspresikan Diri Melalui Kreasi“Kesediaan memberi izin kepada pihak yang berbeda biasanya bersyarat karena ada power relation yang tidak seimbang, antara satu kelompok besar kepada kelompok kecil baik dari segi jumlah, aset, tidak hanya agama tapi juga etnis dan bisa juga usaha,” ucap Ihsan.
Kedua, saat ini sudah ada payung dari segi kehidupan sebagai kewarganegaraan modern. Dengan perlindungan sebagai warga negara, maka seseorang meski lemah tetap mendapatkan toleransi, karena berkedudukan sejajar sebagai sesama warga negara.
“Posisi sesama warga negara menjadi saling menghormati sebagai sesama warga negara meskipun memiliki perbedaan,” ucapnya.
Menurut Ihsan, variabel yang dianggap paling kuat untuk menjadikan seseorang toleran atau tidak, adalah pada sisi perception of trap. Aspek psikologis menjadi salah satu sikap prediktor paling kuat.
Baca juga: Guru Besar Paramadina: Pesan-pesan dalam Al-Qur'an Imbau PersatuanPerception of trap tidak berubah ketika merasa terancam atau ada informasi baru terlebih. Dia mencontohkan pada era media sosial saat ini. Ada buzzer yang bermain di wilayah itu.
“Ketika terdapat masalah yang sebetulnya sedang-sedang saja, tetapi oleh buzzer diesktrimkan sedemikianrupa, sehingga penerima informasi menjadi terdorong mengambil sikap negatif. Bahkan bukan hanya mengambil sikap, tetapi karena buzzer seseorang dapat mengambil langkah tindakan yang keliru,” tutur Ihsan.
(jqf)