LANGIT7.ID, Jakarta - Arthur Jeffery merupakan orientalis pengkaji Al-Qur’an yang paling kontroversial dengan gagasan ingin membuat Al-Qur’an edisi kritis. Dia berpandangan, Al-Qur’an yang ada saat ini sangat tidak jelas dan disusun secara sembarangan.
Salah satu bagian yang dikritisi Jeffery adalah Surah Al-Fatihah yang dianggap bukan bagian dari Al-Qur’an. Dalam tulisannya berjudul "The Variant Readings of the Fatihah", dia mengklaim ada kejanggalan dalam Surah Al-Fatihah dengan menunjukkan dua variasi surah itu yang berbeda.
Bahkan, Jeffery bersama Bergstrasser dan Pretzl pernah berencana membuat edisi kritis terhadap Al-Qur’an. Namun, rencana mereka gagal setelah bahan-bahan yang dikumpulkan hancur terkena bom pada Perang Dunia II. Hal itu disampaikan Jeffery dalam bukunya,
Materials for the History of the Text of the Qur’an: The Old Codices.
Baca juga: 4 Sumber Daya Islam Jadi Daya Tarik Peneliti DuniaJeffery memiliki banyak pandangan kontroversi terkait Al-Qur’an. Namun, pada akhirnya pandangan-pandangan itu bisa dipatahkan dengan mudah dengan fakta sejarah yang lebih otentik.
Misal tuduhan Jeffery mushaf Utsmani saat ini. Dia berpadangan, Utsman tak sepatutnya menyeragamkan mushaf yang sudah beredar di wilayah umat Islam kala itu. Dia menilai penyeragaman itu didorong oleh motivasi politik.
Selain itu, Jeffery menganggap Al-Qur’an memuat memuat permasalahan mendasar. Pertama, aksara gundul di dalam mushaf Utsmani yang menjadi penyebab perbedaan varian bacaan.
Kedua, mushaf-mushaf yang sejak awal sudah beredar adalah mushaf-mushaf tandingan (
rival codices). Berdasarkan mushaf itu, Jeffery menyebut Al-Fatihah bukan bagian dari Al-Qur’an. Al-Fatihah dianggap sebagai doa yang letakkan dan dibaca sebelum membaca Al-Qur’an.
Ketiga, Jeffery juga mengklaim ada ayat-ayat yang hilang di dalam Al-Qur’an.
Bantahan Terhadap JefferyPandangan Jeffery sebenarnya sangat skeptis. Sepanjang sejarah, sejak Leo III (741) sampai abad ke-21, kajian orientalis terhadap Al-Qur’an selalu diwarnai dengan paradigma Yahudi-Kristen.
Mereka menggunakan metodologi Bibel untuk diterapkan kepada Al-Qur’an. Mereka tidak akan menerima kebenaran Al-Qur’an. Jika menerima, konsekuensinya adalah masuk Islam dan meninggalkan agama yang dengan jelas disalahkan Al-Qur’an.
Pendapat-pendapat yang menolak otentisitas Mushaf Utsmani sebenarnya telah dilakukan para ulama sepanjang masa. Tradisi keilmuan dalam Islam yang sangat ketat membuat anggapan Jeffery bisa terbantah dengan sendirinya.
Mengutip laman
INSISTS, Utsman melakukan standarisasi teks bukan karena alasan politis, tapi untuk menghindari berbagai kesalahan yang akan terjadi pada Al-Qur’an.
Jadi, tindakan pada Utsman sangat diperlukan untuk mempertahankan otentisitas Al-Qur’an. Oleh sebab itu, para sahabat saat itu dengan senang hati menerima keputusan Utsman melakukan standarisasi.
Menurut Mus’ab bin Sa’d, tidak ada seorang pun yang dari sahabat Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang berilmu mengingkari perbuatan Utsman bin Affan itu. Hal itu cukup membantah pandangan Jeffery terkait Mushaf Utsmani.
Jeffery juga tidak bisa mengatakan aksara gundul penyebab terjadinya perbedaan qiraah. Perbedaan qiraah berawal dan berasal dari Rasulullah. Al-Qur’an diwahyukan secara lisan, dan ungkapan lisan Rasulullah kepada umat berupa teks sekaligus cara mengucapkan. Yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan.
Para sahabat tidak ada yang menginovasi qiraah. Qiraah muncul karena sebagian sahabat sulit untuk menggunakan dialek Quraisy. Kalau pendapat Jeffery dan orientalis lain benar, maka Mushaf Utsmani akan memuat jutaan masalah qiraah. Namun itu tidak terjadi.
Selain itu, argumentasi Jeffery juga salah karena para Qurra’ banyak sekali yang sepakat dengan qiraah dalam ortografi yang sama.
Selanjutnya, pendapat Jeffery soal mushaf yang menandingi Mushaf Utsmani juga tidak tepat. Mushaf-mushaf tersebut saling berbeda antara satu dengan yang lain. Dia menganggap catatan pribadi sahabat sebagai mushaf. Itu tentu keliru.
Catatan Abdullah Ibn Mas’ud misalnya, tidak mencantumkan Al-Fatihah, An-Naas, dan Al-Falaq. Begitu pun dengan catatan pribadi banyak sahabat. Jadi, catatan-catatan itu tidak bisa dianggap sebagai Al-Qur’an. Catatan pribadi beda dengan mushaf.
Begitu pun dengan pandangan Jeffery soal Al-Fatihah. Ibnu Mas’ud tidak mencantumkan Al-Fatihah dalam catatan pribadinya, karena surah itu paling sering dibaca setiap hari. Wajib dibaca setiap shalat.
Di dalam
al-Tafsir al-Kabir, Fakhruddin al-Razi menolak pendapat yang mengatakan bahwa ‘Abdullah ibn Mas‘ud mengingkari al-Fatihah sebagai bagian dari al-Qur’an.Jeffery juga berpendapat bahwa ‘Abdullah ibn Mas‘ud menganggap surah al-Nas dan al-Falaq tidak termasuk di dalam al-Qur’an. Pendapat ini tidak tepat karena dari murid-murid Ibn Mas‘ud, selain Zirr, semua meriwayatkan al-Qur’an dari Ibn Mas‘ud secara keseluruhan 114 surat.
Baca juga: Jonathan Brown, Mualaf Amerika yang Jadi Profesor Ahli HaditsJeffery juga tidak mengerti ketika mengatakan ayat-ayat di dalam Al-Qur’an hilang. Masalah seperti itu sudah dibahas oleh para ulama kita secara mendetil dalam Kitab al-Nasikh wa al-Mansukh.
Dihapusnya ayat-ayat tersebut dari Al-Qur’an adalah kehendak Allah dan ketentuan Allah Ta’ala. Terhapusnya ayat itu bukan karena kesembronoan atau kesilapan yang dilakukan oleh Rasulullah atau para sahabat. Ayat-ayat tersebut memang sudah tidak ada ketika Rasulullah masih hidup.
Hal yang perlu diingat, umat Islam perlu hati-hati agar tidak terpengaruh dengan pemikiran orientalis. Masalah yang sebenarnya sudah dalam kategori al-thabat, bisa menjadi mutaghayyirat, jika tidak hati-hati dalam membaca karya yang ditulis para orientalis.
(jqf)