LANGIT7.ID - Hampir dua tahun pandemi Covid-19 melanda. Sekolah tatap muka pun telah lama ditiadakan dan diganti dengan belajar daring. Namun jalannya belajar daring menghilangkan banyak hal dari belajar tatap muka, salah satunya adalah kualitas interaksi.
Penulis dan Pakar Pendidikan Anak Mohammad Fauzil Adhim mengingatkan, guru maupun orang tua tak boleh hanya sekedar memperbaiki kualitas teknologi, tapi kualitas belajar daring perlu diperbaiki. Jika kualitas interaksi antara pendidik dan peserta didik tidak ditingkatkan, pembelajaran daring akan terasa begitu kering.
Menurut Fauzil, wawasan yang sempit dan malas belajar menjadikan orang tua mudah menyimpulkan keberhasilan belajar hanya berkaitan dengan cara mengajar. Padahal, ada hal yang jauh lebih penting dari itu, yakni kualitas interaksi, baik di sekolah maupun di rumah.
Dia menjelaskan, ketika guru dan siswa dapat melakukan interaksi fisik, anak akan mudah merasakan kedekatan. Kehadiran secara fisik juga mudah memunculkan ketersambungan antara siswa dan guru.
Hal itu sangat mempengaruhi keterlibatan penuh siswa dalam belajar. Dalam pembelajaran daring, interaksi insani ini perlu memperoleh perhatian.
"Apa yang hilang ketika guru dan siswa bertatap muka secara langsung? apa yang terjadi ketika pembelajaran hanya berlangsung secara virtual? miskinnya interaksi. Maka inilah yang perlu diperhatikan," katanya melalui akun instagram @muhammadfauziladhim, Jumat (30/7/2021).
Fauzil menekankan agar orang tua dan guru berdiskusi untuk menciptakan kualitas interaksi dalam pembelajaran anak. Kolaborasi guru dan orang tua merupakan poin penting di era pandemi.
"Hanya memperbaiki teknologi belajar tanpa memperbaiki kualitas interaksi akan menjadikan pembelajaran daring terasa begitu kering sehingga antusiasme siswa melemah. Akibat selanjutnya keterpautan yang tinggi pada diri siswa terhadap pembelajaran (
student engagement) menjadi rendah atau bahkan tidak ada," kata dia.
Secara sederhana ada empat keterlibatan siswa dalam belajar. Paling tinggi disebut
engagement dan paling rendah adalah absenteism, yakni kondisi ketika siswa akan senang jika tidak mengikuti kegiatan pembelajaran. "Adapun ketika ia harus hadir secara daring, ia hanya 'setor muka', tapi hakikatnya tidak hadir. Hanya tampak 'on', tetapi ia sibuk dengan aktivitas lain," kata Fauzil.
(jqf)