Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 07 Juni 2026
home masjid detail berita

Membangun Persatuan Umat Dimulai dari Masjid

Muhajirin Kamis, 04 Agustus 2022 - 06:41 WIB
Membangun Persatuan Umat Dimulai dari Masjid
Menegakkan shalat berjamaah jalan menuju terciptanya persatuan umat Islam yang dimulai dari masjid. Foto: Istimewa
LANGIT7.ID, Jakarta - Pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustaz Adi Hidayat (UAH) menilai para tokoh intelektual muslim perlu memetakan akar masalah umat Islam di Indonesia untuk mewujudkan persatuan umat. Salah satu cara untuk mencapai cita-cita besar tersebut adalah memulai gerakan dari masjid.

Dia menyebut umat Islam di Indonesia terbagi ke dalam empat klasifikasi utama yakni umat yang berpikir, umat yang salah berpikir, umat yang tidak berpikir, dan umat yang menjadi fikiran. “Ini yang harus didudukkan (dimusyawarakan),” kata UAH dalam Acara Halal bi Halal JATTI untuk Mewujudkan Pesatuan Umat melalui akun Youtube UFS Official Channel.

Baca Juga: UAH: Jangan Toleransi Dukun dengan Julukan Mulia

Sosok ulama kelahiran Pandeglang itu menjelaskan, umat yang berpikir telah digambarkan dalam Alquran dalam surah Ali-Imrah ayat 190-191. Dalam ayat tersebut, Allah menyinggung kelompok ulil albab yang mengetahui esensi-esensi persoalan.

Kelompok itu diharapkan mengambil peran penting untuk mewujudkan persatuan umat. Mereka adalah golongan yang mampu menghadirkan ketenangan di tengah umat saat diterpa berbagai isu keumatan yang menyita banyak energi, misalnya isu dana haji yang akhir-akhir marak jadi perbincangan.

UAS mengatakan, umat yang berpikir itu mendapatkan banyak tantangan. Salah satunya tantangan dari umat yang salah berpikir. Kelompok tersebut disinggung dalam surah Al-Mudassir ayat 18. Orientasi umat yang salah berpikir itu selalu materi.

Baca Juga: Kunci Gapai Pintu Rezeki, Ustaz Adi Hidayat: Kuatkan Ikhtiar

Kelompok tersebut juga terbagi menjadi dua golongan. Pertama, golongan yang tujuan hidup mereka adalah mengumpulkan materi sebanyak-banyak untuk menjadi kaya. Kedua, kelompok yang menjadikan nilai-nilai keagamaan untuk kepentingan materi. “(Mereka) membawa nilai intelektualitas itu kepada urusan materi, bukan pada hakikat kebenaran yang bernilai maslahat,” ucap dia.

Dia mengibaratkan, umat itu seperti air. Ada umat seperti air hujan, ke manapun bisa datang dan menaungi bahkan sampai ke akar rumput. Ada pula seperti mata air, tidak bisa datang tapi dikunjugi. Ada seperti air PAM, jika tidak diberikan bayaran, maka airnya tidak keluar.

“Ini yang harus diberikan perhatian, agar kita bisa memberikan perhatian kepada isu yang justeru datang dari kalangan intelektual. Kita harus menjawab persoalan-persoalan seperti liberalisme” ucapnya.

Baca Juga: Ini Pantangan di Bulan Muharram, Tertuang Langsung di Al Quran

Ada pun golongan ketiga yakni umat yang tdak berpikir. Kelompok ini disinggungdalam surah Al-A’raf ayat 179, yakni mereka diberi kemampuan akal untuk berpikir tapi tidak digunakan. Menurut UAH, kelompok ini menjadi tantangan para ulama aau umat yang berpikir. Kelompok jenis ketiga ini harus dipetakan keberadaanya di seluruh Indonesia.

“Kita juga harus memetakan kalangan awam yang hanya menerima fatwa, menerima pendapat, apa yang diperintahkan itu yang dijalankan. Seorang ulama harus memerankan peran stragetis Alquran surat 2 ayat 143. Berada di tengah untuk mestabilkan kondisi umat,” tuturnya.

Umat yang keempat, umat yang menjadi fikiran. UAH mengatakan, kelompok tersebut sudah normal dan menjadi objek dakwah semua ulama. Mereka disinggung dalam surah Al-An’am ayat 50: “Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"

Baca Juga: Satu Amalan di Bulan Muharram yang Bisa Bawa Pengaruh Baik

“Banyak orang bertanya menyoal ini dan itu terkait masalah-masalah kehidupan, maka ini menjadi tantangan untuk kita semua,” ucap dia.

UAH menawarkan gagasan, untuk menanamkan akar-akar persatuan di tengah umat bisa dimulai dari masjid. Dia menyebut ada sekitar 800 ribu masjid di Indonesia.

“Kalau kita bergerak mengembalikan fungsi masjid pada apa yang telah diisyaratkan melalui Alquran, dan dipraktikkan oeh Rasulullah dengan membangun masjid solutif, Masjid Nabawi, yang menjadi center dalam setiap aktivitas muslim, di setiap daerah, itu akan sangat luar biasa,” tuturnya.

Baca Juga:

Wajib Dipahami Setiap Muslim, Ini Perbedaan Infak dan Sedekah

Belajar dari Generasi Muda Hebat Islam, Diabadikan di Al Quran

8 Golongan Mustahik, Ini Orang-Orang yang Boleh Terima Zakat


(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 07 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)