LANGIT7.ID, Jakarta - Ali bin Thalib merupakan sepupu Rasulullah sekaligus sahabat mulia. Dia menjabat sebagai khalifah keempat Khulafaur Rasyidin, menggantikan Utsman bin Affan.
Pada 21 Ramadhan 40 H, Ali bin Thalib dibunuh setelah shalat Shubuh. Kesyahidan Sayyidina Ali telah diceritakan Ibnu Katsir dalam Kitab
Al-Bidayah wan Nihayah. Ali dibunuh dengan keji oleh seorang bernama Ibnu Muljam.
Ibnu Muljam berasal dari kelompok Khawarij dan mengklaim paling benar sendiri soal Islam. Dia menikam Ali usai shalat Subuh pada 21 Ramadhan. Ssbagian sejarawan menyebut 17 Ramadhan atau 20 Ramadhan 40 H/661 M.
Baca juga: 7 Rekomendasi Buku untuk Tingkatkan Intelektualitas Muslim saat RamadhanSaat terjadi konflik di tubuh umat Islam yang berakibat perang Shiffin 37 H, antara Muawiyah dan Ali terkait suksesi kepemimpinan dan keumatan, muncul kelompok Khawarij. Ibnu Muljam bagian dari kelompok ini.
Khawarij menentang kelompok Ali maupun Muawiyah, serta menganggap diri paling benar. Di luar kelompoknya adalah salah dan kafir. Mereka merasa kelompoknya sesuai dengan Al-Qur’an, selain mereka wajib diperangi karena telah mengotori hukum Allah.
Kisah kesyahidan Ali bin Thalib ini menjadi kabar pilu bagi umat Islam. Ali dikenal sebagai orang dekat Rasulullah. Muawiyah, sahabat sekaligus sosok yang kerap berselisih paham dengan Ali pun menangis ketika Ali bin Thalib berpulang.
Mengutip buku
Kisah Hidup Ali bin Abi Thalib karya Mustafa Murrad, Muawiyah menangis tersedu-sedu ketika mendengar kabar itu.
“Mengapa engkau menangis kepergiannya, sedangkan selama ini engkau memeranginya?” tanya istri Muawiyah.
“Sungguh kau tidak mengetahui. Seiring dengan kepergiannya, manusia kehilangan kemuliaan, pemahaman, dan pengetahuan,” jawab Muawiyah. Ali merupakan sosok terhormat dan disebut sebagai pintu ilmu pengetahuan oleh Rasulullah.
Peristiwa itu disebut sebagai salah satu pembunuhan paling keji dalam sejarah. Ali sedang menunaikan shalat dan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.
Prof Dr Abdussyafi Muhammad Abdul Lathif dalam buku
Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah menceritakan, Ibnu Muljam sengaja datang ke Kufah, Irak, tempat Ali kala itu, untuk membunuhnya. Dia membawa sebilah pedang yang sudah dilumuri dengan racun mematikan.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan, Sahabat yang Meninggal saat Berpuasa“Tebasan pedang beracun itu sangat mematikan, sehingga tiada harapan bagi Ali untuk selamat dan sembuh.” Tulis Prof Abdussyafi.
Ketika dipenjara pun, Ibnu Muljam mengaku tidak merasa bersalah. Bahkan, dia sempat negosiasi dengan Hasan, Putra Ali bin Abi Thalib, untuk membunuh Muawiyah sebagai ganti kebebasannya.
“Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu hingga api neraka melumatmu,” kata Hasan.
(jqf)