LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya,
KH Miftachul Akhyar, menilai pondok pesantren merupakan sistem pendidikan terbaik di Tanah Air. Pesantren tidak hanya mendidik santri untuk pintar, tapi juga hidup dengan cara yang benar sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan biasa. Ada aplikasi ayat pertama Surah Al-Alaq di dalamnya, yakni setiap umat Islam diperintahkan untuk mendalami ilmu pengetahuan.
“Iqra, jadilah orang yang punya kemampuan. Mau membaca semuanya, tapi jangan lupa ayat ini tidak berdiri sendiri, ada kelanjutannya. Iqra-nya dengan apa? ‘
bismi rabbika’ (dengan nama Tuhanmu). Itulah bentuk
khasyatullah itu. Jadi pintar dan benar,” kata KH Miftachul Akhyar di akun resmi Pesantren Lirboyo, dikutip Jumat (29/4/2022).
Baca Juga: Pesantren Punya Potensi Emas, PBSB Buat Santri Mendunia
Mengutip laman NU Online, KH Miftachul Akhyar menjelaskan, pesantren mampu terus eksis dan bertahan sampai saat ini sudah terbukti mencetak alumni yang berkualitas. Santri tidak hanya memiliki kecerdasan kognitif, tapi juga dibarengi kecerdasan afektif (sikap dan akhlak).
“Pesantren bisa bertahan karena model pendidikannya mampu memproduksi orang pintar yang berakhlak (benar),” kata Rais Aam PBNU ini.
Pesantren merupakan sistem pendidikan peninggalan dari para walisongo. Sistem pesantren mengarusutamakan Warisan salaf yakni menjaga sifat mulia, unggah-ungguh dalam kehidupan, takdim (hormat) kepada guru, dan hidup sederhana.
Nilai-nilai tersebut sangat Istimewa dan langka di tengah era pragmatisme dan transaksional yang menggerogoti sistem pendidikan lain.
Hal itu juga yang menjadikan pesantren mengemban tugas berat. Pesantren harus mencetak para santri berkualitas, namun di sisi lain harus mengemban amanat perjuangan ulama untuk menjaga akidah.
Kendati begitu, KH Miftachul Akhyar yakin pesantren bisa tetap yakin karena berjalan di atas panduan Al-Qur’an. Terutama 5 ayat pertama Surah Al-Alaq yang selalu jadi panduan bagi santri.
Baca Juga: PTKIN, Solusi Pendidikan untuk Generasi Milenial
Lima Ayat pertama itu menjadi pegangan bagi para santri untuk senantiasa memiliki kemampuan membaca, baik tulisan, keadaan, maupun peristiwa alam. Dengan begitu, santri akan menjadi sosok yang pintar dalam berbagai bidang di dunia dan juga akhirat.
“Tapi jangan lupa untuk menyebut nama Tuhanmu (bismi rabbik) sebagai pengontrol dan pengendali kepintaran dan kecerdasan. Perlu adanya pendampingan dan kontrol. Yang bisa seperti ini pondok pesantren,” ucap KH Miftachul Akhyar.
(jqf)