LANGIT7.ID, Jakarta - Bagi kalangan Nahdliyyin, KH Miftachul Akhyar bukan lagi nama baru. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2020-2025 ini telah melakukan pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU) sejak muda. Maka tak heran jika ia bisa mengemban pucuk kepemimpinan NU, sebagai
Rais Aam.
Dalam situs resmi PBNU, sosok ulama yang akrab disapa Kiai Miftah itu merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, Jawa Timur. Ia merupakan putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.
Masa Kecil Kiai MiftahOrang tua Kiai Miftah merupakan orang tua yang sangat disiplin. Kadang kedisiplinan itu membuat Kiai Miftah kecil mendapat pukulan dari orang tua. “Saya bersyukur, umpama tidak dikerasi seperti dulu, mau jadi apa aku (sekarang),” tutur beliau seperti dilansir dari Channel YouTube Radio Menara 3.
Kiai Miftah menggambarkan salah satu didikan orang tuanya yang masih melekat sampai saat ini. Jika berbuat salah, kata dia, ayahnya akan memukul menggunakan sapu. Sementara ibu beliau menggunakan cubitan sebagai pelajaran. “Sampai patah itu gagang sapu,” kata beliau.
Meski hidup di tengah keluarga yang menerapkan kedisplinan tinggi, Kiai Miftah sama sekali tidak menaruh rasa benci. Ia bahkan bersyukur akan model pendidikan seperti itu, sistem pendidikan dalam keluarga yang kata beliau sudah mulai pudar pada zaman modern saat ini. Padahal, kata dia, orang tua menerapkan kedisiplinan tinggi kepada anak-anaknya demi masa depan mereka yang lebih bahagia.
PendidikanDalam catatan Lembaga
Ta'lif wan Nasyr NU (LTNNU), Kiai Miftah disebut pernah mengenyam pendidikan di sejumlah pesantren besar di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Lasem. Ia juga pernah mengikuti
Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi al-Makki al-Maliki di Malang. Saat ini, KH Miftah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya.
Dari hasil nyantri di berbagai Pondok Pesantren tersebut, Penguasaan ilmu agama Kiai Miftah membuat kagum Syekh Masduki Lasem. Hal itu membuatnya diambil menantu oleh kiai yang terhitung sebagai
mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas Pacitan.
Berbekal ilmu agama yang tinggi, Kiai Miftah kemudian mendidikan Pondok Pesantren di Surabaya. Menurut pernyataan Sekretaris Pimpinan Wilayah Lembaga
Ta'lif wan Nasyr NU Jawa Timur (PW LTN NU Jatim), Ahmad Karomi, Kiai Miftah mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan, Surabaya. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek. Namun, setelah melihat fenomena pentingnya nilai religius di tengah masyarakat setempat, maka ia mulai membuka pengajian.
Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun, berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki Kiai Miftah, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu, sehingga kampung yang gelap menjadi terang dan sejuk seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat.
Selain itu, kesederhanaan Kiai Miftah terlihat jelas saat menghormati tamu. Kiai Miftah bahkan tidak segan-segan menuangkan minuman dan camilan kepada tamunya. Akhlak seperti itu ia dapatkan dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni.
“Ayah Kiai Miftah merupakan karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang. Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem, sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar,” kata Karomi.
Karir Di struktur kepengurusan NU, Kiai Miftah beberapa kali menjabat sebagai pengurus dari tingkat cabang hingga nasional. Ia pernah menjabat sebagai
Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005,
Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan Wakil
Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Pj.
Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU, Sabtu (22/9).
Pada 2018 lalu, Kiai Miftah diamanahkan untuk menjadi
Rais Aam PBNU 2018-2020. Kala itu ia menggantikan KH Ma’ruf Amin yang maju pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019. Rais Aam PBNU itu kemudian terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025. Penetapan tersebut dihasilkan secara mufakat oleh tim formatur Musyawarah Nasional (Munas) ke-10 MUI yang beranggotakan 17 orang.
Sumber: NU Online, Radio Menara 3 Channel(jqf)