LANGIT7.ID, Semarang - Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI) mendesak pemerintah tidak memperpanjang masa pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat level 4 yang akan selesai pada 2 Agustus 2021. Pemerintah diharapkan kembali memberlakukan sekolah tatap muka.
Ketua PGSI Jateng Muh Zen Adv mengatakan, metode sekolah daring yang sudah berjalan selama 1,5 tahun ini lebih banyak mendatangkan mudarat (kerugian) bagi anak didik, karena masih menggunakan kurikulum sekolah tatap muka. Berdasarkan survei yang telah dilakukan oleh guru-guru, Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS), tingkat keterserapan aspek koginitif (ilmu) oleh siswa hanya 30 %.
“Materi yang diajarkan tidak maksimal, karena pembelajarannya hanya satu arah dari guru kepada murid. Untuk aspek psikomotorik, seperti budi pekerti, ini malah tidak diajarkan sama sekali,” ucapnya, Minggu (1/8).
Zen mendesak kepada Pemerintah berani membuat keputusan di tengah kondisi pandemi COVID-19 untuk memberlakukan sekolah tatap muka. Karena aspek pendidikan dan kesehatan ini setara, keduanya sangat penting dan merupakan kebutuhan dasar manusia.
“Sekolah saat ini sudah siap menggelar sistem tatap muka. Tinggal bagaimana memanajemen pembelajaran supaya tidak terjadi kerumunan di sekolah dan tetap mematuhi protokol kesehatan,” kata pria yang juga anggota Fraksi PKB DPRD Jateng ini.
“Pembelajaran daring ini justru memberi zona nyaman bagi guru, tapi tidak semuanya. Ada yang di pelosok itu, murid ini mendatangi gurunya dengan dalih untuk konsultasi, padahal sedang sekolah,” ujarnya lagi.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya sekolah daring untuk pelajar SMK. Karena selain mengikuti pembelajaran seperti siswa SMA, mereka masih mendapatkan tugas praktik sesuai dengan jurusan yang diambil di sekolah.
.
Di sisi lain, Ia mengaku khawatir jika tidak ada terobosan dari pemerintah untuk kembali menerapkan sekolah tatap muka, Indonesia akan lost generation (kehilangan satu generasi), gara-gara sekolah daring. Seharusnya Indonesia bisa mencontoh negara lain yang berani menggelar sekolah tatap muka.
“Seperti Singapura, China dan Jepang sudah menggelar sekolah tatap muka cukup lama. Lha terus akan daring sampai kapan? Sampai pandemi selesai,” tuturnya.
Diketahui, sebenarnya Jawa Tengah sudah menerapkan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) pada 5 – 16 April 2021 lalu untuk 140 sekolah. Terdiri dari 35 SMP, 35 SMA, 35 SMK dan 35 Madrasah Aliyah (MA).
Sementara untuk TK, SD dan PAUD ditunda dulu setelah ada masukan dari para ahli dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pembelajaran diikuti 70-110 siswa. Pengajaran tidak boleh lebih dari 4 jam setiap hari, dengan masing-masing pelajaran 30 menit tanpa ada istirahat.
(zul)