LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) DKI Jakarta Ustaz Fahmi Salim mengajak umat Islam melawan gerakan Islamophobia. Gerakan ini mulai merebak pasca peristiwa 9 November 2001 di Amerika Serikat.
Sejak saat itu, dunia internasional dipimpin Amerika Serikat menyerukan kampanye besar-besaran melawan terorisme global. Namun, alih-alih memberantas terorisme, seruan itu juga menyasar pelemahan syariat Islam.
“Saat itu umat Islam dipojokkan dengan isu kontra terorisme global. Maka terjadilah dampak perang global yang disebabkan dunia barat. Muncul penghinaan, diskriminasi, kemudian persekusi terhadap umat Islam di berbagai belahan dunia,” kata Ustaz Fahmi dalam sebuah ceramah pada UFS Official Channel dilihat Jumat (20/5/2022).
Baca Juga: Shamsi Ali: Hari Anti Islamophobia Momentum Umat Islam Semakin BerkembangSalah satu dampak Islamophobia yang memilukan belum lama ini adalah penembakan jamaah shalat di Christchurch, Selandia Baru. Tragedi terjadi di masjid Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre pada 15 Maret 2019 dan menewaskan 50 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.
“Peristiwa ini menyentakkan dunia internasional betapa jahatnya propaganda Islamophobia yang lahir akbiat propaganda sesat 911, perang global terorisme menghancurkan jati diri umat Islam,” kata Ustaz Fahmi.
Namun, perlahan dunia mulai mengubah pandangannya terhadap Islam. Bertepatan dengan tanggal tragedi berdarah di Selandia Baru, PBB menetapkan Hari Anti-Islamophobia yang akan diperingati setiap tanggal 15 Maret.
"Maka tidak ada jalan lain bagi negara, tidak ada ujaran kebencian terhadap kaum muslimin kecuali tunduk dan ikut aturan main global di mana dunia internasional sekarang sudah mengadopsi dokumen dan meresmikan 15 Maret sebagai hari melawan gerakan Islamophobia baik terang-terangan maupun samar-samar,” tuturnya.
Baca Juga: Persis Dorong Penguatan Agenda Turn Back Islamophobia(zhd)