LANGIT7.ID, Jakarta - Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) mendorong penguatan agenda
Turn Back Islamophobia guna melindungi umat Islam dari stigma buruk dan tindakan diskriminatif. Pelarangan jilbab di India menjadi contoh menguatnya kembali intoleransi terhadap Islam.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat dan Kelembagaan PP Persis, Dr Tiar Anwar Bachtiar mengapresiasi inisiatif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berupaya memerangi Islamophobia. Pada September 2020, OKI dan Liga Muslim Dunia menandatangani nota kesepahaman untuk bersama-sama memerangi radikalisme, ekstrimisme, dan Islamophobia.
Ustaz Tiar sepakat bahwa radikaslisme dan ekstrimisme perlu dihilangkan, tidak hanya pada Islam, tapi juga pada semua agama. Selain itu, lanjut Tiar, sikap permusuhan dan kebencian terhadap Islam juga perlu menjadi perhatian bersama.
Baca Juga: PP Persis: Umat Islam Selalu Jadi Korban Wacana Pemberantasan Terorisme“Di India, fobia terhadap Islam telah menimbulkan kejahatan yang luar biasa biasa dan perlu kerja bersama untuk mencegah itu. Turn Back Islamophobia harus dimaknai sebagai suatu usaha menciptakan keseimbangan pola komunikasi dan interaksi antarkelompok agama,” katanya dalam Webinar Internasional
Turn Back Islamophobia yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), dikutip Kamis (31/3/2022).
Mantan Ketua Umum Pemuda Persis ini menguraikan, inisiatif
Turn Back Islamophobia saat ini terasa semakin penting di samping mendorong agenda moderasi beragama dari dalam masyarakat muslim. Dengan demikian akan tercipta keseimbangan di mana sikap ekstrimisme di kalangan internal umat dihilangkan dan masyarakat Islam juga terlindungi dari kebencian.
Baca Juga: Banyak Penghafal Al-Qur’an Bukti Gagalnya IslamofobiaDua agenda; moderasi beragama dan melawan
Islamophobia inilah yang menurut Tiar memerlukan kerja-kerja bersama. Di satu sisi membina masyarakat muslim agar bersikap washatiyah, di sisi lain melindungi umat Islam dari kebencian dan permusuhan.
“Ini bagian dari kewajiban di kalangan bersama, sebab yang menjadi tujuan utama kehidupan kita di dunai adalah menciptakan kedamaian. Jangan hanya mendorong internal umat Islam berperilaku ihsan, tapi di sisi lain ada perilaku diskriminatif terhadap umat Islam,” katanya.
Baca Juga: Komisi X: Kata Madrasah Sudah Dicantumkan Kembali ke RUU Sisdiknas(zhd)