LANGIT7.ID - , Jakarta - Penasihat Organisasi Kesehatan Dunia (
WHO), Dr David Heymann, menggambarkan wabah
cacar monyet terjadi dari perilaku seksual berisiko. Dalam wawancara dengan The Associated Pres, Heyman menjelaskan teori utama penyebaran penyakit ini bermula dari transmisi seksual di dua pesta rave yang diadakan di Spanyol dan Belgia.
Menurut Heymann, yang sebelumnya mengepalai Departemen darurayt WHO, cacar monyet sebelumnya tidak memicu wabah meluas di luar Afrika, di mana endemik pada hewan.
Baca juga: WHO: 92 Kasus Cacar Monyet Teridentifikasi di 12 Negara“Kami tahu
monkeypox dapat menyebar ketika ada kontak dekat dengan lesi seseorang yang terinfeksi, dan sepertinya kontak seksual kini telah memperkuat penularan itu,” kata Heymann.
Hingga saat ini, WHO telah mencatat lebih dari 90 kasus cacar monyet di belasan negara termasuk Inggris, Spanyol, Israel, Prancis, Swiss, AS, dan Australia.
Pejabat kesehatan senior Madrid mencatat ada 30 kasus konfirmasi sejauh ini di ibukota Spanyol tersebut, Senin (23/5/2022). Enrique Ruiz Escudero mengatakan pihak berwenang sedang menyelidiki kemungkinan hubungan antara acara
Gay Pride baru-baru ini di Kepulauan Canary, yang menarik sekitar 80.000 orang, dan kasus-kasus di sauna Madrid.
Pemerintah Portugal dan Spanyol mengatakan kasus cacar monyet terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria lain.
Cacar monyet ini dapat menyebabkan demam, menggigil, ruam, dan luka di wajah atau alat kelamin. Penyakit ini dapat menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, pakaian atau seprai mereka, tetapi penularan seksual belum didokumentasikan.
Baca juga: Wabah Cacar Monyet, Kenali Gejala dan PenularannyaKebanyakan orang sembuh dari penyakit dalam beberapa minggu tanpa memerlukan rawat inap. Vaksin cacar, penyakit terkait, juga efektif dalam mencegah cacar monyet dan beberapa obat antivirus sedang dikembangkan.
Heymann, yang juga seorang profesor penyakit menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine, mengatakan wabah cacar monyet kemungkinan merupakan peristiwa acak yang mungkin dapat dilacak pada satu infeksi.
"Sangat mungkin ada seseorang yang terinfeksi, mengembangkan lesi pada alat kelamin, tangan atau di tempat lain, dan kemudian menyebarkannya ke orang lain ketika ada kontak fisik atau seksual dekat," hipotesis Heymann seperti dikutip dari NBC News, Selasa (24/5/2022).
Dia menekankan bahwa penyakit itu tidak mungkin memicu penularan yang meluas, karena ini bukan Covid.
“Kita perlu memperlambatnya, tetapi tidak menyebar di udara dan kami memiliki vaksin untuk melindunginya.” tambah Heymann.
Baca juga: DPR: Promosi Gay Podcast Deddy Corbuzier Merusak Jati Diri BangsaHeymann meminta percepatan penelitian untuk menentukan apakah cacar monyet dapat disebarkan oleh orang tanpa gejala. Dan menentukan tindakan pencegahan di populasi berisiko.
(est)