LANGIT7.ID - Idrissa Gana Gueye akhir-akhir ini menjadi pembicaraan publik
Prancis karena menolak laga Paris Saint-Germain (PSG) kontra Montpellier lantaran harus memakai jersey bernuansa
LGBT.Pesepakbola muslim itu sebenarnya ikut dalam skuad PSG. Namun dia lantas minta tidak dimainkan pelatih PSG Mauricio Pochettino, yang kemudian menyebut Gueye absen karena masalah pribadi. Kabar penolakan akibat jersey
LGBT itu menuai pro-kontra.
Di
Prancis, pesepakbola asal Senegal itu dikabarkan banjir kecaman, karena dianggap diskriminatif. Di sisi lain, banyak pula dukungan untuk Gueye. Baru-baru ini salah satu dukungan datang dari langsung dari Macky Sall, Presiden Senegal. Ia menegaskan, pilihan Gueye sebagai seorang muslim harus dihormati.
Baca Juga: 6 Pemain Muslim Akan Bertempur di Final Liga Champion
"Aku mendukung Idrissa Gana Gueye. Keputusan terkait keyakinannya itu harus dihormati," kata Sall dalam sebuah cuitannya, dilansir RT.com.
Idrissa Gueye merupakan pesepak bola yang lahir di Dakar, Senegal, pada 26 September 1989. Saat ini, gelandang bertahan itu sudah berusia 32 tahun. Dia memulai karirnya di Lille pada tahun 2008. Beberapa tahun kemudian ia pindah ke liga Inggris memperkuat Aston Villa lalu Everton. Tak mendapatkan gelar apapun bersama klubnya di Liga Inggris, Gueye kembali ke liga Prancis memperkuat PSG.
Mengapa Oahraga Jadi Corong Propaganda LGBT? Olahraga merupakan salah satu jendela kosmetik dari globalisasi neoliberal. Itu karena olahraga tampak universal, semua peradaban dan bahkan komunitas telah mempraktikkan salah satu bentuk aktivitas fisik kompetitif, sehingga daya tariknya bersifat universal.
Baca Juga: Cara Pesepakbola Muslimah Lawan Larangan Hijab di Prancis
Jadi, jika olahraga dimanipulasi untuk tujuan ideologis, itu akan memiliki jangkauan besar ke masyarakat global. Itu menjadi alasan lobi
LGBT menargetkan olahraga secara khusus. Melalui olahraga, LGBT dapat menyebarluaskan agendanya secara virtual ke seluruh dunia.
Contoh, remaja Arab akan berubah pikiran jika melihat idola sepakbola favoritnya berlari dengan bendera pelangi. Itu merupakan rekayasa sosial yang halus, sebuah cara untuk mempengaruhi psikologi masyarakat menolak LGBT.
(jqf)