LANGIT7.ID, Jakarta - Wabah
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak kian parah. Di Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan saja, 1195 ekor sapi perah terinfeksi PMK, 37 ekor mati dan 39 terpaksa dipotong karena menderita PMK parah.
CEO Tobian Farm, Muhammad Fahmi Idris, S.Pt, meminta pemerintah bergerak cepat menangani penyakit mulut dan kulit (PMK) yang menyerang hewan ternak.
Fahmi mencatat ada dua subjek yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam menangani kasus ini yakni peternak dan masyarakat umum. Para peternak menjadi kelompok pertama yang terkena dampak penyakit ini.
"Karena penyakit ini akan menyerang produksi hewan yang dipelihara oleh peternak secara langsung dalam konteks pertumbuhan daging, ataupun produksi susu," kata Fahmi kepada LANGIT7.ID, Rabu (8/6/2022).
Baca Juga: PMK Merajalela, Ini Tips Pilih Hewan Kurban Sehat Bebas PMK
PMK tak hanya menyerang sapi, tapi juga kambing dan domba. Sehingga, peternak akan merasakan dampak secara langsung, apalagi kejadian paling ekstrem adalah kematian ternak. Kematian ternak akan mengurangi jumlah hewan ternak yang seharusnya menjadi harta kekayaan peternak.
"Ini menjadi kewajiban pemerintah untuk melindungi rakyatnya agar tidak kehilangan harta benda, maupun mata pencaharian sebagai peternak. Karena memang ternak menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian orang. Sehingga ketika kehilangan ternak, mereka kehilangan mata pencaharian," tutur Fahmi.
Di sektor peternak ada dua jenis yakni peternak tradisional dan peternak industri. Pemerintah harus melakukan proteksi lebih ke peternak tradisional. Banyak dari mereka memelihara 1-2 hewan sebagai tabungan.
Di sisi lain, banyak peternak tradisional hanya berorientasi hanya memelihara. Pengetahuan tentang penyakit sangat minim. Sehingga, pemerintah harus mensosialisasikan tentang PMK secara masif sampai ke akar-akar masyarakat, agar penularan tidak terjadi secara luas.
"Pemerintah juga seharusnya lebih cepat membagikan vaksin ke peternak di daerah-daerah yang belum terjangkit. Beberapa hari ini, kenaikan kasus PMK sangat signifikan, sehingga membuat kekhawatiran peternak," kata Fahmi.
Pemerintah Harus Kontrol Harga Daging Dan Hewan Kurban agar Tidak Naik Saat ini masyarakat tengah memasuki bulan-bulan Idul Adha. Maka itu, pemerintah harus mengontrol penyakit ini agar harga daging dan harga ternak hidup untuk Idul Adha tidak melambung drastis.
Baca Juga: Hewan Kurban Terjangkit PMK, Bolehkah Dagingnya Dikonsumsi?
"Ada spekulasi akan terjadi kenaikan harga ternak yang sangat signifikan, apalagi ada beberapa oknum memanfaatkan kondisi untuk menaikkan harga ternak sejak sekarang. Jadi, pemerintah harus benar-benar proaktif untuk menjaga dua subjek, yakni peternak dan masyarakat umum," kata Fahmi.
Di sisi lain, Fahmi menyarankan pemerintah tidak mengimpor daging beku atau produk daging apapun dari negara-negara yang berstatus endemik PMK seperti Brazil dan India. Ini menjadi salah satu pemicu, apalagi PMK memiliki karakter cepat menular.
"Sehingga bijak bagi pemerintah menghentikan impor sementara atau selamanya dari negara-negara yang terkena endemik PMK dan berfokus pada penanganan PMK di dalam negeri dan juga fokus meningkatkan produksi daging dan susu di dalam negeri," pungkas Fahmi.
(jqf)