LANGIT7.ID, Semarang - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (
PBNU), KH Dimyati Rois, meninggal dunia di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah pada Jumat dini hari (10/6/2022).
Kiai sepuh yang dikenal sederhana dan berwibawa itu wafat pada usia 77 tahun. Pria yang akrab disapa Abah Dim atau Mbah Dim itu lahir di daerah Brebes, Jawa Tengah pada 5 Juni 1945. Dia merupakan pengasuh Pesantren Al-Fadlu wal Fadilah di Kampung Jagalan, Kutoharjo, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.
Baca Juga: PBNU Berduka, Abah Dim Meninggal Dunia Jumat Dini Hari
Mbah Dim adalah seorang orator ulung yang mampu membius massa. Pengaruhnya yang besar membuat kediaman Mbah Dim selalu menjadi persinggahan tokoh nasional. Dia juga selalu sepenuh hati menghadiri undangan masyarakat untuk mengisi majelis ilmu.
Mbah Dim merupakan sosok ulama yang sangat baik dan penuh kesederhanaan, baik kepada para santrinya maupun kepada masyarakat luas. Kesederhanaan itu ditunjukkan dengan berpakaian yang sederhana dan tidak akan makan jika tidak benar-benar lapar.
Baca Juga: Mengenang KH Mahrus Amin, Kiai Entrepreneur Penggagas 1.000 Pesantren Nusantara
Salah satu kelebihan yang dimiliki Mbah Adim adalah kemampuan wirausaha. Tak hanya mengasuh pesantren, dia memiliki berbagai usaha, terutama dalam bidang pertanian dan perikanan. Usaha itu tak dinikmati sendiri, dia melatih para santri untuk berwirausaha.
Masa Kecil dan Pendidikan Mbah Dim Sejak kecil Mbah Adim memang terlihat berbeda dibanding saudaranya yang lain. Dia dikenal pendiam, tetapi rajin, disiplin, dan ulet. Dari situ dia mulai pendidikan di Sekolah Rakyat (SR).
Di sekolah itu, dia menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan sertifikat sebagai tanda kelulusan. Setelah selesai pendidikan formal, Mbah Dim melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal yang diasuh KH Ahmad Ru'yat sekitar 1956.
Dia mondok di Pesantren Apik, Kaliwungu, Kendal kurang lebih 14-15 tahun. Dia lalu melanjutkan pendidikan dengan berguru kepada KH Mahrus Aly di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Di Lirboyo, Mbah Dim hanya sebentar.
Baca Juga: Mengenang Mohammad Siddik, Ulama dan Diplomat yang Mendunia
Setelah itu, Mbah Dim berguru kepada Mbah Imam, pengasuh Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah kurang lebih 5 tahun. Dia lalu kembali ke Pondok APIK. Dia lalu diangkat menjadi lurah oleh Pengasuh Pondok Pesantren APIK, KH Humaidullah Irfan.
Selama berada di pesantren, Mbah Dim muda mempelajari banyak ilmu seperti ilmu nahwu, sharaf, ushul fikih, kitab-kitab Al-Ghazali, dan masih banyak lagi kitab-kitab lain. Selama di pondok-pondok itu pula, kecerdasan Mbah Dim terlihat jelas.
Dia tidak menyia-nyiakan waktu selama mondok. Dia gunakan untuk belajar, maka tak aneh jika Mbah Dim memiliki wawasan luas tentang keislaman.
Karier Mbah Dim di NU Pada Muktamar NU di Jobang, Mbah Dim terpilih menjadi salah satu ulama yang tergabung dalam tim
Ahlul Hal Wal Aqdi (AHWA) yang berjumlah 9 ulama se-Indonesia. Kiprah Mbah Dim di NU tidak perlu diragukan lagi.
Dia pernah menduduki kepengurusan dari mulai tingkat PCNU Kendal, PWNU Jawa Tengah, hingga
PBNU. Dia juga pernah menjadi pengurus Tanfidziyah, Syuriyah, hingga Mustasyar PBNU.
Di samping sebagai ulama yang alim, dia juga dikenal sebagai mubaligh yang ulung. Maka tidak heran jika dia banyak dikenal di kalangan santri dan kaum nahdliyin.
Baca Juga: Mengenang KH Nawawi Abdul Jalil, Ulama Karismatik yang Zuhud dari Sidogiri
Karier Politik Di dunia politik, Mbah Di pernah menjadi pengurus DPW PPP Jawa Tengah, DPP PKB, dan DPP Partai Kejayaan Demokrasi (PKD). Pada masa orde baru, dia pernah menjadi anggota MPR RI melalui jalur Utusan Golongan yang diajukan PPP.
Mbah Dim juga masuk jajaran pengurus PBNU yang ikut mendeklarasikan kelahiran PKB. Dia bersama KH Cholil Bisri, KH Mustofa Bisri, KH Abdurrahman Wahid, KH Munasir Ali, KH Muchit Muzadi, KH Ma'ruf Amin, KH Ilyas Ruhiyat, dan ulama lain menjadi deklarator PKB.
Setelah vakum di dunia politik beberapa tahun, Mbah Dim kembali didapuk oleh Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, untuk menjadi pengurus Dewan Syuro DPP PKB. Di kemudian hari, ketua Dewan Syuro DPP PKB kosong sepeninggal KH Aziz Manshur.
Muhaimin Iskandar lalu memohon agar Mbah Dim berkenan menjadi mengisi kekosongan tersebut. Dia lalu menyanggupi permohonan itu demi kebesaran PKB.
(jqf)