LANGIT7.ID - , Jakarta - Tingkat kasus
kekerasan seksual pada perempuan di Indonesia lebih tinggi dibanding laki-laki. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) membagikan data dari 9.745 kasus kekerasan seksual dialami oleh 1.529 korban laki-laki dan 9.037 kasus dengan korban perempuan.
Dari jumlah kasus yang dialami perempuan, 49,9 persen korban dalam rentang usia 0-17 tahun. Ini menandakan seriusnya kasus kekerasan seksual pada anak di Tanah Air.
Baca juga: UGM Deklarasi Kampus Bebas Kekerasan SeksualKoordinator Jaringan Muda Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia Suci Susanti menekankan pentingnya peranan
orang tua dalam pencegahan kasus kekerasan seksual pada anak.
Menurut Suci, peran orang tua tak hanya menciptakan rumah yang nyaman bagi anak, tapi juga aman. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan membuat bonding atau ikatan dengan anak. Menciptakan
bonding, menurut Suci, antara orang tua dengan anak tidaklah sulit.
Komunikasi merupakan kunci untuk itu.
"Jangan irit berbicara kalau sudah di rumah. Artinya sempatkan waktu untuk berbicara kepada anak atau
deep talk. Deep talk ini bukan hanya antara suami dan istri tetapi juga antara orang tua dan anak," ujar Suci dalam acara bertajuk "Mencegah Anak Dari Korban Kejahatan Seksual," Jumat (10/6/2022).
Selain itu, orang tua wajib memberikan waktu untuk anak menyampaikan apa saja yang ingin ia sampaikan. Caranya dengan mengajak mereka berkomunikasi setiap harinya.
Untuk memulainya bisa dilakukan ketika mereka pulang dari suatu tempat seperti sekolah. Orang tua bisa kegiatan di sekolah dan perasaan si anak saat menjalani harinya.
Baca juga: Nonton Film Porno Sejak Dini, Pemicu Tindakan Pelecehan Seksual"Ingat, jangan tanyakan soal Pekerjaan Rumah (PR) sebab itu termasuk pertanyaan yang menguras otak dan tenaga mereka," lanjut Suci.
Menurut Suci, saat anak pulang sekolah yang dibutuhkan adalah pelukan dari orang tua. Bukan pertanyaan yang memberatkan atau menguras otak si anak.
"Anak-anak itu kan kalau pergi sekolah tasnya berat, jadi ketika mereka pulang sekolah dan sampai ke rumah rasanya tentu lelah. Jadi yang mereka butuhkan itu hanya pelukan dari orang tua bukan memberikan mereka pertanyaan-pertanyaan yang menguras otak. Jangan seperti itu," lanjut dia.
Lebih lanjut, Suci menegaskan orang tua zaman sekarang harus memiliki visi dan misi. Misalnya visi masuk surga bersama keluarga. Di sini orang tua harus menciptakan lingkungan yang nyaman dan mempraktekkan kewajiban agama, seperti shalat atau hal-hal baik lainnya.
"Tidak perlu jauh-jauh lakukan di lingkungan rumah saja. Ini mungkin terlihat terlalu ideal tetapi bisa dipraktekkan. Jika kita benar-benar ingin yang terbaik untuk anak," tuturnya.
Seperti mengajarkan hal-hal sederhana, ketika masuk kamar yang bukan miliknya harus izin terlebih dulu. Atau menyontohkan untuk memakai baju di dalam rumah jangan terlalu membuka aurat hingga penggunaan internet penting untuk dikenalkan dan diajarkan pada anak.
Lingkungan rumah dan keluarga yang seperti ini, menurut Suci bisa mencegah terjadinya pelecehan seksual.
Baca juga: Hati-hati, Ini 5 Dampak Toxic Parenting pada Anak"Penggunaan internet ini usahakan disediakan di tempat berkumpulnya anggota keluarga, sehingga ketika mereka menggunakan
gadget, mereka akan terkumpul di satu tempat dan kita sebagai orang tua mudah memantaunya," katanya.
"Ini khusus untuk anak-anak yang masih kecil. Jangan biarkan anak yang masih belum bisa membedakan benar dan salah untuk menggunakan gadget tanpa pantauan orang tua," pungkas Suci.
(est)