LANGIT7.ID, Jakarta - Perkembangan kasus
Covid-19 di Indonesia kembali meroket. Satgas Covid-19 belum bisa memastikan penyebab kasus Covid-19 naik tajam, tapi longgarnya prokes dan naiknya interaksi sosial diduga menjadi faktor pendukung.
Anggota
Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta pemerintah segera menyiapkan langkah taktis antisipatif penanganan Covid-19. Ia khawatir bila pemerintah lamban, penyebaran Covid-19 menjadi tak terkendali. "Pemerintah harus segera mempersiapkan sistem kesehatan dan mengambil langkah untuk menekan kasus Covid-19," kata Netty, Kamis (!6/5/2022) di Jakarta.
Baca Juga: Satgas Covid: Omicron BA4 dan BA5 Menyebar Lebih CepatData Satgas Covid-19 mencatat per Rabu (15/6/2022) kemarin, jumlah kasus Covid-19 harian naik signifikan menjadi 1.242 kasus. Sehingga total menjadi 6.063.251 kasus positif virus Covid-19.
Sebelumnya pada Selasa (14/6/2022), tercatat total kasus Covid-19 di Indonesia sebanyak 6.062.009 kasus, sembuh 5.900.049 kasus, dan meninggal 156.662 kasus. "Disiplin prokes masyarakat sudah mulai longgar. Tempat-tempat publik kembali dibanjiri pengunjung," ujar Netty.
Saat ini, pertemuan tatap muka (PTM) dan mobilitas masyarakat sudah mulai normal kembali. Namun, hal ini dianggap bisa berbahaya tanpa adanya pengendalian dan pelaksanaan disiplin prokes.
Baca Juga: Kenali Omicron Varian BA4 dan BA5, Vaksinasi Dinilai Jadi SolusiNetty menyesalkan sikap pemerintah beberapa waktu ke belakang yang cenderung memberikan kesan kepada masyarakat untuk melonggarkan prokes. Hal itu seperti terlihat dari pernyataan Presiden
Jokowi yang membolehkan membuka masker hingga terjadinya penurunan aktivitas testing.
"Bahkan acara-acara besar juga sudah digelar tanpa prokes yang ketat. Pesan yang ditangkap masyarakat adalah pelonggaran, karena Covid-19 sudah landai atau bahkan hilang. Akibatnya masyarakat banyak yang tidak waspada dan cenderung mengabaikan prokes," ungkapnya.
Komunikasi publik yang disalahpahami masyarakat ini, lanjut Netty, bahkan berdampak pada munculnya sikap kurang responsif terhadap imbauan vaksinasi. Program vaksinasi booster yang telah dianggarkan pembiayaannya oleh pemerintah cenderung diabaikan masyarakat. "Mereka terlanjur termakan opini bahwa Covid-19 sudah hilang, untuk apa vaksinasi," tuturnya.
Baca Juga:
Varian Baru Omicron Picu Lonjakan Covid-19, Ini Penjelasan Satgas
Hambat Subvarian Omicron, Pemerintah Percepat Laju Vaksinasi Dosis Penguat(asf)