Langkah antisipatif ini dinilai mendesak mengingat sebanyak 93 juta dari total 155 juta tenaga kerja Indonesia menggantungkan hidup di sektor informal dengan tingkat penghasilan yang tidak pasti.
Menurut dia, keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, tokoh agama, pemerintah daerah, dan masyarakat harus membangun sinergi dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang remaja.
Dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat akibat paparan asap dan polusi udara.
Pemerintah perlu mengantisipasi munculnya masalah kesehatan di lokasi pengungsian, seperti ISPA, dehidrasi, gangguan gizi, serta penyakit yang berpotensi muncul akibat keterbatasan air bersih, sanitasi dan tempat tinggal yang layak.
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mendukung keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) yang menghentikan sementara operasional 1.300 SPPG atau dapur MBG.
Netty memaparkan bahwa dari perkiraan 4,8 juta angka kelahiran nasional setiao tahunnya, sekitar 48.000 bayi terlahir membawa kelainan jantung bawaan. Dari estimasi tersebut, terdapat setidaknya 12.000 bayi yang mendesak untuk segera dioperasi.
Menurut Netty, mayoritas korban mudah terbujuk oleh tawaran pekerjaan bergaji menggiurkan tanpa memedulikan atau memahami risiko bahaya yang mengintai.
Menurut Netty, pemerintah tidak menemukan terobosan guna menyelesaikan permasalahan di sektor ketenagakerjaan. Hal tersebut yang kemudian menimbulkan kebijakan yang merugikan masyarakat.
Netty mengungkapkan, berdasarkan data BP2MI, sejak 2014-2022, sudah ada 704 orang PMI asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang pulang dari Malaysia dalam kondisi tak bernyawa.
Virus Marburg diklaim mirip dengan Ebola dan sangat menular. Badan Organisasi Dunia (WHO) menyebut tingkat kematian akibat virus ini dapat mencapai 88 persen.