LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Parenting Ustadz Muhammad Fauzil Adhim menilai pandemi Covid-19 membawa keberkahan yang jarang orang tahu. Manusia dibekali kemampuan sintesis, yakni mampu mengambil hikmah di balik setiap kejadian.
Dalam Islam, ada istilah
baiti jannati atau rumahku surgaku. Maka seharusnya tidak ada alasan untuk bosan saat berada dalam rumah. Selain itu, rumah disebut maskan (tempat) karena memberikan ketenangan. Itu juga yang menjadi dasar pembelajaran daring semestinya bisa sangat menyenangkan, jika fungsi keluarga dipahami dengan benar.
Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Di sana karakter anak dibentuk. Jika tidak demikian, atau merasa muak dengan anjuran untuk di rumah saja, maka ada sesuatu yang harus dibenahi dalam manajemen keluarga.
“Seharusnya rumah itu memberikan ketenangan. Kenapa kok malah yang menenangkan hati ada di luar rumah? Berarti ada yang perlu kita benahi dan kita perbaiki di rumah kita. Sehingga anak di rumah itu merasa nyaman, nyaman dengan kita,” kata Ustadz Fauzil dalam webinar bertajuk pendidikan online untuk anak beradab, melalui akun Youtube AQL Islamic Center, Kamis malam (5/8/2021).
Maka, kata dia, menata kembali kualitas keluarga menjadi sangat penting. Ini merupakan bekal awal untuk menata pendidikan anak. Kerap orang tua mengasuh membesarkan anak, namun merasa sudah memberikan tarbiyah atau pendidikan yang mencukupi.
Padahal selain membesarkan anak, ada kewajiban sangat mendasar yang harus dipenuhi terlebih dahulu, yakni sungguh-sungguh membangun pribadi mereka. Terlebih jika menyimak rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR. Ahmad).
Karakter seorang anak saat remaja hingga dewasa sangat ditentukan oleh pendidikan anak saat masih kecil. Anak ibarat tanaman. Jika tanaman itu tidak dirawat dengan baik, maka akan menghasilkan buah yang tidak baik. Buah jelek itu merupakan salah didik dari orang tua.
“Nah sekarang ini cara berpikir yang banyak terjadi adalah apapun problem remaja adalah salah mereka. Padahal itu bukan karena remaja bermasalah. Tetapi karena mereka tidak dipersiapkan,” kata Fauzil.
Ustadz Fauzil mengatakan, saat anak berusia 7 tahun, orang tua perlu mengevaluasi anak, apakah tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan atau sebaliknya. Saat anak sudah tegak di atas fitrah atau Islam pada usia itu, maka selanjutnya orang tua mempersiapkan mereka untuk diberi ilmu berkaitan dengan pembiasaan hingga pendisiplinan.
Dari sini hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan orang tua memukul anaknya jika tidak menegakkan shalat menjadi relevan. Saat memasuki usia 10 tahun, orang tua perlu mengevaluasi kembali, apakah pendidikan kedisiplinan itu sudah sukses atau belum.
Ini artinya, orang tua harus sungguh-sungguh mendidik anak sebelum memasuki umur 10 tahun. Ini karena fase berikutnya butuh pendidikan yang lebih rumit lagi. Jika tidak dipersiapkan sejak awal, atau sejak anak lahir, maka orang tua akan kesusahan saat anak remaja dan dewasa.
“Saya khawatir banyak di antara kita yang sudah sangat asing dengan tarbiyah islamiyah. Atau jangan-jangan banyak orang tua yang buta terhadap tarbiyah Islamiyah, sehingga mengambil apa saja, sekenanya, sehingga hal hal yang pokok tidak memperoleh perhatian,” pungkas Ustadz Fauzil.
(jqf)