LANGIT7.ID, Jakarta - Jumlah pesantren di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat. Jumlah pondok saat ini sebanyak 37.626
pesantren dengan 4,7 juta jiwa santri, jumlah pesantren naik sekitar 8.600 dibanding tiga tahun silam.
Kepala Subdirektorat Pendidikan Pesantren Kementerian Agama, KH Basnang Said menguraikan, pesantren merupakan lembaga pendidikan terunggul di Indonesia bila berkaca dari sejarah. Harusnya, kata dia, pesantren bisa jadi sistem pendidikan utama bila Indonesia tidak dijajah.
“Cak Nur (Nurcholish Madjid) pernah mengatakan, andaikan kita tidak pernah dijajah oleh Belanda maka sistem pendidikan kita pasti pesantren,” kata Basnang dalam diskusi Pseudo Pesantren, Membongkar Pesantren ‘Palsu’, Rabu (3/8/2022).
Baca juga: Sejak Kapan Islam Masuk ke Indonesia? Ini Kata Pakar Sejarah Bansang menjelaskan, sistem pendidikan pesantren lahir pada abad ke-14 seiring menguatnya dakwah Wali Songo. Kemudian, konsep pendidikan Indonesia berubah seiring masuknya penjajahan Eropa pada abad 16 yang mengubah tradisi pendidikan santri.
“Belanda lah yang mentradisikan sekolah, jadi kalau kita pakai celana panjang, pakai dasi sebenarnya kita sedang menguatkan tradisinya Belanda,” katanya.
“Jadi, andaikan kita tidak pernah dijajah oleh Belanda maka pasti nama perguruan tinggi kita itu adalah Pondok Pesantren Tebu Ireng, Krapyak, Al Wathoniyah kemudian pesantren Minhaj dan yang lain,” imbuh Basanang.
Dia menambahkan, pendidikan pesantren sejatinya tidak kalah unggul dengan sistem sekolah warisan Belanda. Basanang mencontohkan, misalnya kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah diterapkan pesantren sejak dahulu.
Baca juga: Mengenal Ponpes Kebon Jambu al-Islamy yang Diangkat Jadi Film ke Layar Lebar
“Makanya ada pesantren spesial tafsir, ada pesantren seperti salafiyah itu lebih sepsial pada fiqih dan ushul fiqih, kemudian ada hadits. Makanya sebenarnya lagu lama ketika orang bicara soal Kurikulum Merdeka, bagi pesantren dari dulu sudah merdeka,” urainya.
(sof)