Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen IKP Kominfo), Usman Kansong, di Jakarta.
“Mungkin ke depan (obyek wisata) bisa dikembangkan dengan teknologi metaverse misalnya seperti Candi Borobudur. Ini menjadi wacana di Kementerian Komunikasi dan Informatika,” kata Usman dikutip dalam keterangannya, Kamis (4/8/2022).
Wacana penerapan teknologi metaverse ini, tambah Usman, dilatarbelakangi dengan pembatasan memasuki bangunan Candi Borobudur bagi pengunjung umum. Langkah tersebut disebut sebagai upaya menjaga kelestarian obyek wisata.
Melalui metaverse, diharapkan pengunjung yang berkunjung ke Candi Borobudur bisa tetap merasakan menaiki bangunan bersejarah tanpa harus mengunjungi langsung. Usman pun optimistis penerapan metaverse Borobudur dapat segera terealisasi.
“Jadi tidak harus orang naik ke atas Candi Borobudur ya, karena semakin banyak orang yang naik, maka lapisan batu candinya akan menipis dan (metaverse) ini untuk kelestariannya,” ujarnya.
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”