Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura, Paling Utama Setelah Ramadhan

Muhajirin Jum'at, 05 Agustus 2022 - 15:50 WIB
Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura, Paling Utama Setelah Ramadhan
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID - Puasa pada bulan Muharram menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Ini berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sementara, shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim).

Di antara puasa yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa Tasu'a dan Asyura yang dikerjakan pada tanggal 9 dan 10 dalam kalender hijriyah. Berdasarkan kalender Masehi, Tasu'a dan Asyura jatuh pada Ahad, 7 Agustus dan Senin, 8 Agustus 2022.

Awal mula puasa ini tidak terlepas dari peristiwa di masa Nabi Muhammad SAW. Mengutip kanal Santri Media Online, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), menjelaskan, suatu ketika Rasulullah SAW tengah berjalan-jalan dan melihat orang-orang Yahudi puasa pada 10 Muharram.

Baca Juga: Puasa Asyura Tradisi Yahudi? Ini Kata Ustadz Khalid Basalamah

“Puasa Asyura menurutmu sejarahnya nabi diajarkan malaikat Jibril? Bukan. Puasa ASyura ketika nabi jalan-jalan, orang Yahudi yang merupakan tetangganya itu melakukan puasa pada hari itu,” tutur Gus Baha.

Rasulullah lalu bertanya kepada orang Yahudi perihal alasan mereka berpuasa. Orang Yahudi menganggap 10 Muharram sangat penting karena pada hari itu Nabi Musa AS diselamatkan dan mengalahkan Fir’aun.

Rasulullah lalu menegaskan kepada kaum Yahudi, dia lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada Bani Israil. Beliau diutus untuk melanjutkan tugas kenabian nabi-nabi terdahulu. “Akhirnya nabi memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa Asyura,” ujar Gus Baha.

Baca Juga: Ini Bacaan Niat Ibadah Puasa Sunnah Tasua dan Asyura

Penjelasan Gus Baha itu berdasarkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah SAW hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa Asyura. Mereka ditanya tentang puasanya tersebut, lalu menjawab: ‘Hari ini adalah hari di mana Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa AS dan Bani Israil atas Fir’aun. Maka, kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa’. Kemudian, Nabi SAW bersabda, ‘Kami (umat Islam) lebih utama memuasai Nabi Musa dibanding dengan kalian’. Lalu, Nabi SAW memerintahkan umat Islam untuk berpuasa di hari Asyura.” (HR Muslim).

Gus Baha mengutip Kitab Fathul Muin terkait kaum Yahudi berpuasa pada 10 Muharram. Untuk membedakan puasa umat Islam dan orang Yahudi, maka syariat ini dimulai pada 9 Muharram.

Dalam kitab itu ditegaskan, seandainya tidak dimulai pada 9 Muharram, maka puasa ditambah pada 11 Muharram. Namun, menurut pandangan Imam Syafi’i, kata Gus Baha, umat Islam boleh berpuasa pada 10 Muharram saja.

Baca Juga: Puasa 11 Muharram, Solusi Bagi yang Lupa Jalani Puasa Tasua

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW berpuasa Asyura (10 Muharram). Para sahabat memberi tahu, "Ya Rasul, itu adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Rasulullah SAW menjawab, "kalau ada kesempatan pada tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa Tasua (9 Muharram)".

Ibnu Abbas berkata, ‘Belum datang tahun depan, tetapi Rasulullah sudah terlebih dulu wafat.” (HR Muslim).

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)