LANGIT.ID, Jakarta - Puasa Asyura di
bulan Muharram ternyata lebih dulu diamalkan oleh kaum Yahudi. Namun bukan berarti umat Islam ikut-ikutan kebiasaan ibadah mereka.
Penceramah
Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan, landasan hukum
puasa Asyura adalah ketika Nabi Muhammad SAW mendapat kabar bahwa Yahudi sedang berpuasa di 10 Muharram.
"Lantas Nabi Muhammad mencari tahu dan bertanya kepada sahabatnya. Diketahui umat Yahudi berpuasa karena rasa syukur, di mana tepat di 10 Muharram Nabi Musa AS diselamatkan Allah dari kejaran Firaun," kata dia dalam kutipan ceramahnya, Senin (1/8/2022).
Mendengar kabar itu, sontak Rasulullah meresponnya dengan mengajak para sahabat untuk berpuasa di 10 Muharram. Bukan karena ingin ikut-ikutan Yahudi, melainkan umat Islam lebih berhak atas Nabi Musa AS.
Baca Juga: Ini Pantangan di Bulan Muharram, Tertuang Langsung di Al Quran"Sebagai pembeda dengan Yahudi, Rasulullah mengajak umat Islam untuk menyertakan puasa Tasua di 9 Muharram. Dengan kata lain, menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada hari Asyura 10 Muharram," katanya.
Adapun fadilah puasa Asyura di 10 Muharram adalah dapat menghapus dosa selama 365 hari atau setahun yang telah lewat. Untuk itu, dia mengajak umat agar tidak melewatkan sunnah Muharram.
"Jangan tunda amal salih sampai ajal datang. Karena kita tidak tahu kapan lagi akan mendapatkan kesempatan mengerjakan amal salih. Berubah menjadi lebih baik adalah prestasi bagi umat Islam," tambahnya.
(bal)