LANGIT7.ID, Jakarta - Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, merupakan seorang ulama yang memiliki kepakaran di bidang kajian gender. Menurutnya Islam mengajarkan kesetaraan gender yang berbeda dengan konsep yang diusung oleh feminisme.
Islam mengajarkan kesetaraan gender, tapi tetap sesuai dengan proporsionalnya. Berbeda dengan konsep feminisme yang menempatkan laki-laki dan perempuan setara secara
fifty-fifty atau
gender equality.
Kesetaraan gender dalam Islam itu bersifat
equity.
Gender equity sejalan dengan ajaran Islam. Kesetaraan yang tetap menghargai budaya dan keagamaan. Perempuan harus diberdayakan, tapi tidak harus merongrong budaya keagamaan serta budaya.
"Kami tidak ingin kebablasan. Saya ingin membedakan antara
gender equality dan
gender Equity.
Gender equality itu kan
fifty-fifty laki-laki dan perempuan harus sama. Kalau saya itu
gender equity.
Gender equity lebih
soft, menghargai budaya," kata Prof Nasar kepada LANGIT7.ID, Senin (8/8/2022).
Baca Juga: Sejak Dulu Islam Memuliakan dan Menghormati Perempuan
Justru, kata dia,
gender equality merugikan perempuan, karena harus disamakan. Ini menyalahi kodrat dasar perempuan dan laki-laki yang diciptakan dan memiliki karakter berbeda.
Contoh paling dasar, perempuan rutin tiap bulan menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Sementara, laki tidak memiliki karakter tersebut. Dari karakter ini, laki-laki dan perempuan tidak bisa disetarakan, karena berbeda secara biologis.
Bagi Prof Nasar, kesetaraan gender berarti memuliakan perempuan, sebagaimana Islam memandang kaum hawa. Itu menjadi landasannya dalam mendakwahkan kesetaraan gender sesuai konsep Islam.
"Masa kita mau menyamakan secara total laki-laki dan perempuan. Perempuan itu hamil laki-laki tidak. Jadi, ada hak-hak cuti hamil, cuti melahirkan, cuti menyusui," kata Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah itu.
Baca Juga: Childfree Produk Feminisme, Konsep Gagal Gambarkan Keluarga IdealPerempuan juga memiliki hak. Kalau tidak ada perempuan, laki-laki tidak akan pernah ada. Jadi, eksistensi perempuan harus ditempatkan secara proporsional. "Apa yang layak bagi perempuan, kita berikan," katanya.
Tidak Boleh Menindas Perempuan atas Nama Agama Alumnus McGill University itu mengkritik tafsir-tafsir agama yang cenderung mendiskreditkan perempuan. Dia mencontohkan dalam persoalan kepemimpinan. Perempuan tidak boleh dihalangi menjadi pemimpin dengan dasar tafsir agama.
"Al-Qur'an tidak pernah melarang perempuan memimpin. Bahkan dicontohkan Ratu Balqis, seorang sosok perempuan yang mendapatkan predikat pemimpin
super power yang melahirkan
baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur," kata Prof Nasar.
Allah Ta'ala punya tujuan tertentu mendemonstrasikan kisah Ratu Balqis dalam Al-Qur'an. Hal itu sekaligus menjadi bukti bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin.
Menurut Prof Nasar, eksistensi perempuan kerap dimarjinalkan dalam praktik keagamaan bukan karena teks agama yakni Al-Qur'an dan hadits. Bias gender terjadi akibat interpretasi (tafsir) terhadap Al-Qur'an dan hadits.
Kebanyakan ilmuwan menafsirkan teks agama berdasarkan androsentrisme, pemahaman yang menjadikan laki-laki sebagai pusat dar dunia. Tafsir itu juga sering didasari paternalisme, tindakan yang membatasi tindakan seseorang atau kelompok demi kebaikan mereka sendiri.
Baca Juga: 3 Batasan Perempuan saat Bekerja, Jangan Lupa Kewajiban di Rumah
"Jadi, tradisi androsentris yang sangat laki-laki itu yang digunakan untuk memahami Al-Qur'an dan hadits. Jadi, alam bawah sadar mereka sebagai laki-laki memahami Al-Qur'an," kata pria kelahiran Bone Sulawesi Selatan itu.
Prof Nasar ingin membuat satu penafsiran yang menempatkan eksistensi perempuan secara proporsional dan sesuai dengan cara Islam memandang wanita. Laki-laki dan perempuan sama-sama hamba Allah.
"Tapi secara de facto di masyarakat kita itu perempuan termarjinalkan," kata Prof Nasar.
Masalah penafsiran teks agama ini tidak hanya terjadi di agama Islam, tapi juga agama-agama lain. Dia menemukan kemiripan penafsiran yang cenderung memarjinalkan perempuan.
"Saya mencoba membandingkan, agama-agama lain kok ada mirip, ada benang merahnya," tutur Prof Nasar.
(jqf)