LANGIT7.ID, Jakarta - Zuriah atau keturunan Rasulullah SAW dari berbagai kalangan di Tanah Air bersama-sama menyerukan persatuan Indonesia. Seruan itu diunggah oleh akun resmi Rabithah Alawiyah.
Rabithah Alawiyah merupakan organisasi yang menghimpun keturunan Rasulullah SAW dari jalur alawiyin yang mayoritas berasal dari Yaman. Organisasi para habib tersebut telah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka. Meski bukan asli pribumi, para zuriah Rasulullah tersebut telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Tak hanya Habib yang menjadi pendakwah saja yang menyampaikan seruan itu. Ada enam zuriah Rasulullah dari berbagai kalangan yang menyampaikan pesan persatuan mewakili Rabithah Alawiyah.
Baca Juga: Innalillahi, Ketua Dewan Syuro Rabithah Alawiyah Habib Zein bin Umar Wafat
Mereka adalah Hassan Alaydrus, Sahil Mulachela, Muhammad bin Ali Alhaddad, Ali Zaenal Abidin Alkaff, Ahmad Assegaf, dan Omar Daniel.
Sosok Sahil Mulachela cukup terkenal di media sosial. Dia populer dengan konten-konten komedi. Dia kerap kali mengajak istri dan anaknya membuat konten menyajikan video komedi.
Selain konten kreator, dia juga berkarier di dunia penyiaran dan menjadi MC sejak 2007. Dia bahkan sudah bekerja sebelum lulus kuliah.
Selain itu, ada Habib Ali Zaenal Abidin bin Alwy Al-Kaff. Beliau merupakan seorang pendakwah yang lahir di Palembang pada 5 Agustus 1987. Suaranya yang lembut membuat Habib Ali saat digandrungi saat membawakan sirah Nabawiyah.
Baca Juga: Sejarah Zuriah Rasulullah Melebur Menjadi Pribumi Nusantara
Berikut narasi lengkap yang disampaikan para zuriah Rasulullah mengajak masyarakat Indonesia terus merajut persatuan:
Kami hanyalah bagian kecil yang turut membentuk suatu perahu besar, perahu itu bernama Indonesia.
Negeri ini mencapai kemerdekaan lewat keberanian dan pengorbanan. Semboyan merdeka atau mati seakan menjadi cambuk menuju mimpi persatuan kesejahteraan.
Lihatlah perahu besar ini, sekarang ke mana perahu besar ini menuju? Sebuah perahu hanya bisa bertahan jika seluruh komponen menyatu. Rapat menutup kerenggangan ini adalah sebuah pesan dari kamu yang kecil.
Saatnya bersatu, saatnya bersatu, saatnya mendengar untuk memahami, bukan untuk membantah. Saatnya menerima perbedaan, tidak memaksakan keseragaman.
Saatnya topang-menopang menghadapi ombak yang meninggi. Saatnya lukisan dan tulisan mencontohkan budi pekerti yang baik. Selamatkan karakter bangsa menghadapi ujian kontestasi kekuasaan yang hanya sebentar.
Baca Juga: Asal Muasal Para Habaib Zuriah Rasulullah Sampai ke Indonesia
Saatnya bertanggung jawab berpikir matang sebelum bertindak. Perilaku kita berdampak besar bagi generasi penerus bangsa. Jika kau ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah kondisi pemuda mereka saat ini.
Saatnya optimis keragaman ras dan agama adalah wujud kekayaan bangsa, saatnya merajut persatuan yang dapat dibanggakan para pahlawan. Saatnya membangun kedewasaan, mematikan ego dan kesombongan.
(jqf)