LANGIT7.ID, Jakarta - Ekonom senior Prof Emil Salim mengaku mulai tertarik mempelajari peradaban Islam dari seorang arsitek Kristen, Friedrich Silaban. Silaban merupakan guru Emil Salim saat masih belajar di salah satu SMA di Bogor, Jawa Barat.
“Dan saya juga distimulir oleh guru saya, Friedrich Silaban. Dia guru saya di Bogor. Tapi cara mengajar, dia mengajar saya aljabar, trigonometri, stereometri dan ilmu ukur lukis. Tapi cara mengajar itu
fascinating,” kata Emil Salim di kanal kepada Gita Wirjawan di kanal YouTube-nya, dikutip Jumat (19/8/2022).
Silaban yang merupakan perancang Masjid Istiqlal, selalu menyelipkan cerita tentang tokoh-tokoh besar muslim saat memberikan materi. Itu yang membuat Emil tertarik mendalami tentang peradaban Islam dalam sejarah Bayt Al-Hikmah, pusat ilmu pengetahuan yang didirikan Dinasti Abbasiyah. Dari situ Emil menemukan bahwa Islam sangat luas. Baitul Hikmah mampu melahirkan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina hingga Al-Khawarizmi.
Baca Juga: Arsitek Masjid Istiqlal Ternyata Seorang Kristen Protestan
Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina merupakan dua tokoh yang sering disebut Silaban. Dua tokoh itu disebut sebagai penemu hebat. Al-Khawarizmi menemukan aljabar yang melahirkan algoritma hingga astronomi. Sementara Ibnu Sina didaulat menjadi bapak kedokteran dunia.
“Jadi terus terang Silaban
makes me exciting mengetahui hal-hal ini. Al-Khawārizmī, Ibnu Sina, kemudian yang astronomi dan segala macam,” tutur mantan Menteri di era Soeharto ini.
Berkat Silaban, Emil melihat Islam secara luas. Tak hanya sekadar rutinitas ibadah saja seperti shalat, puasa dan zakat. Namun, Islam mencakup semua bidang dan menjadi tiang untuk membangun budaya peradaban dunia.
Baca Juga: Bayt Al-Hikmah, Jejak Kemajuan Sains di Masa Keemasan Islam
Emil menyebut Islam memberikan kontribusi besar dalam perkembangan budaya dan peradaban dunia. Namun, dia merasa sedih lantaran umat manusia saat ini tidak menjadikan nilai-nilai Islam untuk membangun peradaban.
“Kita menjadi berkelahi sini lah, ribut sini lah, masalah ini lah, jadi sedih saya. Nah, mengapa kita (umat Islam) tidak juga berbuat yang sejalan. Ini tiang-tiang peradaban dunia,” pungkas Emil.
(jqf)