LANGIT7.ID, Jakarta -
Buya Yahya menjelaskan, dalam rangkaian salat Jumat, khatib atau imam perlu memaknai pesan Rasulullah. Yaitu memendekkan khutbah dan memanjangkan salat.
"Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendek khutbahnya menjadi ciri pemahaman yang baik dalam agama. Oleh karena itu, perpanjanglah salat dan perpendeklah
khutbah, dan sesungguhnya di antara bagian dari penjelasan itu mengandung daya tarik." (HR. Muslim).
Pengasuh LPD dan Pondok Pesantren Al-Bahjah ini menjelaskan, khutbah yang pendek maksudnya pesan yang disampaikan khatib bisa langsung mengena, karena
salat Jumat itu wajib. Juga tidak membebani orang dengan memperpanjang ibadah.
Baca Juga: 5 Cara Biasakan Anak ke Masjid, Awali Ajak Mereka Salat JumatArtinya, lanjut dia, khutbah tidak boleh keluar dari konteks inti wasiat takwa. Apalagi terlalu lama bercerita sehingga banyak menghabiskan waktu.
"Khutbah pendek itu maksudnya ringkas dan praktis. Jangan mengarah pada isu-isu seperti politik, yang melantur kesana-sini," katanya.
Dia mengingatkan agar khutbah dapat diisi dengan pesan kepada umat agar bisa menjadi muslim yang bertakwa. Dengan materi yang berisi perihal akhirat, lantas segera ditutup poinnya dan diselesaikan khutbahnya.
Adapun yang dimaksud salat dipanjangkan bukan berarti terlalu lama pula. Imam hanya perlu mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW dalam salat Jumat.
"Ketika salat, imam bisa membaca surat yang dianjurkan Rasulullah, yaitu Al-A'la dan Al-Ghasyiyah. InsyaAllah semuanya mudah. Wallahu a'lam bishawab," tambahnya.
(bal)