LANGIT7.ID, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bersilaturahmi ke Pengurus Pusat Muhammadiyah, baru-baru ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap kedua ormas Islam terbesar di Indonesia itu bisa satu frekuensi dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa.
Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI, KH Anwar Abbas memandang, pertemuan Ketua Umum kedua ormas; KH Yahya Cholil Staquf dan Haedar Nasir patut diapresiasi. Selain memiliki banyak badan amal usaha dan lembaga pendidikan, NU dan Muhammadiyah juga banyak mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini.
“Kita harapkan agar kedua ormas ini bisa lebih meningkatkan lagi frekuensi, kualitas pertemuan, dan shilaturahminya,” kata Buya Anwar lewat pesan tertulis yang diterima
Langit7, Selasa (6/9/2022)
Buya Anwar menilai, NU dan Muhammadiyah sejauh ini belum mampu menggali dan menggerakkan potensi organisasi dan warganya. Sehingga peran dan kontribusi umat Islam di negeri ini tampak belum maksimal, terutama masalah politik dan ekonomi.
Baca Juga: Ketum PBNU dan Muhammadiyah Bertemu, Bahas Harmonisasi BangsaMenurut Buya Anwar, salah satu faktornya adalah belum adanya kesamanaan visi, misi, dan strategi. Program kerja dan dakwah NU maupun Muhammadiyah dinilai masih belum signifikan terhubung dengan persoalan-persoalan keumatan, kebangsaan dan kenegaraan.
“Dalam mewarnai perjalanan kehidupan politik dan ekonomi di negeri ini peran dari kedua ormas islam tersebut masih sangat jauh dari yang diharapkan,” tutur Buya Anwar.
Buya Anwar lalu mengutip kata-kata arif dan bijak Jenderal Sudirman yang sangat perlu diperhatikan NU, Muhammadiyah, dan umat Islam pada umumnya. Sudirman mengatakan, “Jika kalian ingin menang, maka kalian harus kuat. Untuk bisa kuat maka kalian harus bersatu.”
Untuk bisa bersatu, lanjut Buya Anwar, maka harus rajin membangun silaturahmi. Dan silaturrahmi tersebut sudah dimulai kemarin oleh KH Yahya Cholil Staquf dengan bertamu ke PP Muhammadiyah.
“Semoga saja silaturahmi tersebut bisa berlanjut dan berjalan dengan baik, sehingga bisa memberi arti dan makna yang lebih besar bagi kemajuan umat dan bangsa,” imbuh Buya Anwar.
Baca Juga: Kisah Pak Yo, Pendeta Asal Semarang Putuskan Jadi MualafKetua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, mengatakan pertemuan dua petinggi NU dan Muhammadiyah tersebut, membahas potensi kerja sama antar kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Kedua pihak berencana melakukan penjajakan kolaborasi di bidang sosial budaya.
“Kita ingin ada kerja sama yang lebih erat antara PBNU dengan Muhammadiyah, bahkan kami mulai membicarakan kemungkinan kerja sama kelembagaan antara kedua orang ini dalam mengakses berbagai masalah di tengah masyarakat kita,” ujar Gus Yahya.
Menyambung Gus Yayha, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir bersyukur atas silaturahmi ini. Haedar mengatakan Muhamamdiyah siap melangkah bersama-sama untuk menjalankan berbagai program kolaboratif.
Baca Juga: Gontor Komitmen Ikuti Proses Hukum Wafatnya Santri AM“Tadi kita memang mendiskusikan melangkah lebih jauh untuk program-program kerja sama yang lebih melembaga dan memang umat bangsa kita memerlukan peran konkrit lagi dari Muhammadiyah dan NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia,” kata Haedar.
Menurut Haedar, kerja-kerja pencerdasan, pencerahan, pemberdayaan dan juga tidak kalah penting dalam kolaborasi ini. NU dan Muhammadiyah siap membangun ukhuwah yang lebih meluas di lingkungan umat beragama dan bangsa Indonesia.
“Dan insyaallah nanti akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya,” kata Haedar.
(zhd)