LANGIT7.ID, Jakarta - Lonjakan kasus kematian
Covid-19 di Tanah Air disebabkan akumulasi data yang belum dilaporkan sebelumnya. Dalam tiga hari terakhir, Pemerintah Indonesia melaporkan lebih dari 1.000 kasus kematian per hari akibat Covid-19.
Tenaga Ahli Kementerian Kesehatan (
Kemenkes) Panji Fortuna Hadisoemarto mengklaim pelaporan kasus kematian yang dilakukan daerah tidak
real time dan merupakan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya. Hal itu terlihat dari analisis data pada
National All Record (NAR), yang merupakan sistem pelaporan kasus milik Kemenkes.
Baca Juga: Satgas Covid-19: Kasus Aktif di Indonesia Turun 25,77 PersenDia mencontohkan angka kematian pada 10 Agustus 2021 sebanyak 2.048 kasus yang sebagian besar bukan terjadi pada hari itu. Kasus kematian terbanyak disumbang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
"Bahkan 10,7 persen di antaranya berasal dari kasus pasien positif yang sudah tercatat di NAR lebih dari 21 hari namun baru terkonfirmasi dan dilaporkan
pasien meninggal," kata Panji melalui siaran pers, Kamis (12/8/2021) malam.
Baca Juga: Yusril Protes Indikator Kematian Covid-19 Dihapus Walau SementaraDia juga menuturkan, 94 persen angka kematian yang dilaporkan Kota Bekasi, Jawa Barat pada 10 Agustus 2021 tidak terjadi pada hari itu. Hal serupa juga terjadi di
Kalimantan Tengah, yakni 61 persen dari 70 kasus kematian pada hari tersebut terjadi lebih dari 21 hari sebelumnya namun statusnya baru diperbarui. Kemenkes, kata dia, juga masih mengonfirmasi lebih dari 50.000 kasus aktif yang tercatat selama 21 hari namun statusnya belum diperbarui.
"Jadi beberapa hari ke depan akan ada lonjakan di angka kematian dan kesembuhan yang bersifat anomali dalam pelaporan perkembangan kasus Covid-19, tapi ini akan membuat pelaporan kita lebih akurat," ujarnya.
Baca Juga:
Data Sebut Mayoritas Kasus Kematian Covid-19 pada Orang Belum Divaksin Ibu Positif Covid-19 Jangan Cemas, Masih Bisa Menyusui Bayi(asf)