LANGIT7.ID, Los Angeles - Peristiwa pengeboman gedung WTC pada 11 September 2001 atau Selasa Kelabu meningkatkan
Islamofobia di Amerika Serikat. Sejak peristiwa 9/11, Muslim Amerika kerap mendapatkan tekanan dan diskriminasi. Dua dekade setelahnya, Muslim Amerika terus berupaya melawan Islamofobia.
Menurut data statistik FBI, kejahatan akibat kebencian terhadap muslim meningkat tajam setelah peristiwa 11 September 2001. Kebencian itu bahkan terus meningkat hingga kini.
“Muslim terus menjadi target kebencian, penindasan, dan diskriminasi sebagai akibat dari stereotip yang diabadikan oleh Islamofobia dan media pada tahun-tahun setelah serangan 9/11,” kata Direktur Eksekutif
Council on American-Islamic Relations (CAIR) cabang Los Angeles, Hussam Ayloush, melansir Al-Jazeera, Selasa (13/9/2022).
Baca Juga: Kandidat Wali Kota Chicago Komitmen Lindungi Muslim dan Komunitas Arab
Hussam mengatakan, 21 tahun setelah serangan, umat Islam terus menghadapi ancaman kekerasan. Menurut dia, ada semacam sentimen dari rakyat dan pemerintah Amerika yang membutuhkan ‘musuh’ bersama.
“Kenyataan yang disayangkan adalah ada orang dan organisasi yang diuntungkan dengan melanggengkan Islamofobia, kefanatikan, dan perang,” katanya.
Islamophobia Jadi Masalah Umum Di AmerikaDirektur Rice University’s Boniuk Institute for Religious Tolerance in Houston, Zahra Jamal, mengatakan, 62% muslim melaporkan adanya permusuhan berbasis agama dan 65% merasa tidak dihargai oleh orang lain.
“Itu hampir tiga kali lipat persentase di antara orang Kristen,” kata Jamal.
“Islamofobia yang ter-internalisasi lebih lazim terjadi terhadap kalangan muslim muda yang menghadapi kiasan anti-Muslim dalam budaya populer, berita, media sosial, retorika politik, dan dalam kebijakan. Ini berdampak negatif pada citra diri dan kesehatan mental mereka,” imbuh dia.
Dia menilai, peningkatan kasus diskriminasi terhadap muslim sangat mengkhawatirkan. Itu menunjukkan islamofobia telah meningkat di Amerika Serikat selama 20 tahun terakhir.
Muslim Lebih Rentan Terancam KekerasanHussam mengutip sebuah aturan yang pernah dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat tentang larangan muslim dari beberapa negara mayoritas muslim memasuki AS.
Meski pemerintah sudah membatalkan aturan itu, namun Hussam menyebut muslim Amerika masih merasakan konsekuensinya. Banyak keluarga muslim yang masih terpisah sampai hari ini.
“Kepalsuan paling mencolok yang muncul dari tanggapan terhadap serangan 9/11 adalah gagasan bahwa muslim entah bagaimana lebih rentan terhadap kekerasan daripada kelompok atau agama lain,” kata Hussam.
Baca Juga: Robert Crane, Eks Penasihat Presiden AS Jadi Mualaf setelah Memusuhi Islam
Hussam menjelaskan, islamofobia tidak ada dalam ruang hampa. Sayangnya, muslim bukan kelompok pertama dan tidak akan menjadi yang terakhir dalam menghadapi kebencian dan diskriminasi di Amerika.
Dia mencatat, AS memiliki sejarah panjang dalam kelompok etnis dan agama yang “tidak manusiawi dan meminggirkan”, termasuk penduduk asli Amerika, Afrika-Amerika, Yahudi, dan Asia-Amerika.
“Penting untuk meminta pertanggungjawaban orang-orang yang melanggengkan rasisme, kefanatikan, dan xenofobia atas kata-kata dan tindakan kebencian mereka di semua sektor, baik itu di perbatasan, di bandara, oleh penegak hukum, atau oleh politisi,” kata Hussam.
(jqf)