LANGIT7.ID - Saat ini di Barat seperti Eropa dan Amerika Serikat, banyak orang tergerak hatinya untuk mengkaji agama Islam bahkan menjadi mualaf memeluk Islam.
Majalah Economist di Inggris mencatat, ada sekitar 5.200 mualaf setiap tahun. Islamic Society of North America (ISNA) mengidentifikasi terdapat 2.769 masjid pada 2020. Jumlah itu meningkat 31 persen dari jumlah 2010 sebanyak 2.106. Otomatis jumlah muslim pun semakin banyak. Diperkirakan seperempat dari muslim di Amerika adalah mualaf.
Clare Forestier, reporter BBC di kanal
There Is No Clash mencatat ada lima alasan banyak masyarakat Eropa dan Amerika Serikat yang memilih jadi mualaf.
1. Pencarian MaknaPengalaman para mualaf terkait beberapa aspek budaya Islam dari arsitektur, seni kaligrafi, hingga shalat. Suara dan ketentraman adzan juga menjadi menarik banyak non muslim untuk memeluk Islam.
Baca Juga: 20 Tahun Pasca 9/11, Populasi Muslim dan Masjid di Amerika Berkembang Pesat
Pada 2018, Economist mengangkat sebuah kisah seorang pria Skotlandia saat liburan ke Turki. Di negara tersebut, secara kebetulan mendengar suara adzan. Dia mengaku suara itu membangunkan sesuatu yang ada dalam dirinya dan mengilhami untuk memulai pencarian spiritual.
Pria itu lalu membeli Al-Qur’an dari toko lokal. Saat membaca mushaf, dia mengaku isi kandungan Al-Qur’an mengguncang karena berisi banyak informasi tentang kehidupan manusia.
Aktor Hollywood Liam Neeson setelah syuting film di Turki menggambarkan adzan sebagai panggilan yang luar biasa dan langsung masuk ke dalam jiwa.
2. Perjalanan SpiritualAlasan orang memeluk Islam didorong oleh keinginan untuk menghadirkan koneksi spiritual sebagai bagian untuk mencari makna dan ketenangan batin. Bagi mualaf, Islam awalnya ditolak oleh masyarakat sekitar.
Baca Juga: Abdullah Quilliam, Mualaf Pertama Era Victoria Penyebar Islam di Inggris
Namun, kenyataannya beberapa lembaga penelitian menyebutkan, alasan utama non muslim memeluk Islam karena mereka menemukan makna dan ketenangan jiwa.
Sebuah artikel di Huffpost menyebutkan, “mualaf adalah para pencari spiritual yang mencari makna hidup mereka dan mencari cara lebih baik untuk berhubungan dengan Tuhan.”
Imam Jamal Rahman dalam bukunya “Spiritual Gem of Islam” mengatakan, selama berabad lamanya para leluhur Islam telah memiliki pandangan dan praktik dari kitab suci, meditasi, dan ilmu batin.
Para mualaf termotivasi untuk melakukan perjalanan mencapai sumber spiritualitas Islam.
3. Ketertarikan pada Ritual AgamaTertarik dengan ritual agama Islam. Ritual dalam Islam menjadi alasan lain non muslim tertarik untuk menjadi mualaf. Para mualaf menyadari ritual Islam, seperti puasa, adalah penekanan untuk mencapai pengendalian diri, bukan pembatasan kebebasan.
Baca Juga: 7 Rapper Hits Amerika Serikat Ini Bangga Menjadi MuslimYental, muslim Belgia yang mualaf pada 2018 mengatakan, “Selama Ramadhan saya merasa lebih dekat dengan Tuhan. Saya bisa merasakan saya memulai hidup baru dan segala dosa masa lalu telah diampuni.”
Kristiane Backer, mantan presenter MTV dan NBC yang menjadi mualaf menggambarkan Ramadhan sebagai ujian yang bukan hanya menahan dan pendisiplinan diri, tapi juga sebagai proses penyucian fisik dan spiritual. Dia menyatakan, Ramadhan memberikan perasaan lebih dekat dengan Tuhan.
“Begitu 30 hari puasa selesai ada semacam euforia baru. Saya merasa dibersihkan, utuh dan lebih dekat dengan Tuhan. Ini adalah perasaan luar biasa yang saya harapkan bertahan selamanya.” Kata Kristiane Backer.
Sarah Ager, non muslim yang baru menjadi mualaf menjelaskan, “Mungkin tidak mengherankan selama Ramadhan ketika sebagian besar muslim menahan diri dari makan dan minum seharian.”
Baca Juga: Jonathan Brown, Mualaf Amerika yang Jadi Profesor Ahli Hadits
Sarah lalu menerapkan praktik ajaran Islam mulai dari cara berpakaian, shalat, kebiasaan dan kedisiplinan saat berpuasa. Dia juga terus bermuhasabah dalam shalat.
“Kenyataannya, saya shalat lima kali sehari yang artinya saya harus berhenti sejenak, bahkan ketika marah sekalipun, kita harus berdoa secara fisik bukan hanya dalam kepala, anda harus terlibat secara fisik dalam bentuk rukuk dan sujud.”
4. Pencarian Relevansi LogisBanyak yang mengaitkan proses mualaf mereka sebagai pencarian jawaban logis, intelektual, teologis, dan persoalan hidup. Misal Natalia Dalet, wanita yang berasal dari Switzerland tengah.
Natalia mengaku mendapatkan jawaban logis atas pertanyaannya saat membaca Al-Qur’an. Theresa Corbin, seorang penulis asal Amerika menulis di CNN mengatakan, “Saya seorang feminis dan saya masuk Islam.”
Baca Juga: Bukti Orisinalitas Quran, Upaya Orientalis Selalu Gagal
Dia bercerita, “Perjalanan saya menuju Islam dimulai ketika saya usia 15 tahun, di mana saya meragukan agama saya sebelumnya. Jawaban dari guru dan pendeta tidak memuaskan saya.”
“Begitu saya mempelajari Islam, banyak prinsip-prinsipnya yang mengena dengan saya. Saya senang menemukan dalam Islam para penganutnya diajarkan untuk memuliakan para nabi, dari Musa, Yesus dan Muhammad. Kesemuanya mengajak manusia untuk menyembah Tuhan yang Esa, dan senantiasa meminta berperilaku baik.”
Lebih jauh, Corbin tertarik terhadap perbandingan Islam dengan ilmu pengetahuan. Dia dikejutkan oleh sains dan rasional berpikir yang dianut oleh pemikir Islam seperti Al-Khawarizmi penemu Aljabar, Ibnu Firnas yang mengembangkan mekanik pesawat sebelum Da Vinci, dan Al-Zahravi bapak operasi medis modern.
5. Pencarian KelompokAlasan terakhir banyak mualaf di Barat adalah pencarian akan sebuah kelompok. Banyak mualaf yang membagikan perasaan memiliki kelompok dalam perjalanan menuju Islam.
Umat Islam dari berbagai latar belakang budaya dikenal sangat baik dalam menyambut orang ke dalam kelompok mereka.
Baca Juga: Bikin Haru, Ini Reaksi Mualaf Asal Inggris saat Pertama Kali Mengunjungi Madinah
Perwakilan Islamic Center di UAE, banyak warga asal luar negeri menjadi muslim mengatakan, “Saya kira itu disebabkan karena mereka melihat rasa sebuah kebersamaan dan bagaimana muslim berpuasa, shalat. Yaitu muslim berkumpul buka puasa bersama dan shalat tarawih berjamaah.”
Sebuah artikel dalam Majalah Economist menggambarkan orang merasa muak dengan kebodohan, keegoisan, dan kebejatan dalam lingkungan mereka. Mereka mencari satu kesamaan di mana muslim dari berbagai latar belakang bisa duduk bersama untuk membentuk satu perkumpulan beragama secara kuat yang menekankan kesopanan, akhlak, dan kerendahan hati.
(jqf)