LANGIT7.ID, Jakarta - Pada dasarnya setiap manusia baik muslim maupun non muslim, ketika lahir memiliki hati yang jernih dan condong kepada fitrah yaitu ketauhidan. Namun kemurnian hati tersebut dapat mengalami perubahan akibat pengaruh dari faktor pendidikan, lingkungan, dan keluarga.
Hal tersebut disampaikan oleh Pendakwah sekaligus Founder Radio Silaturahim (Rasil), Habib Husen Al-Attas dalam Sarasehan Mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Sabtu (24/9/2022).
Baca Juga: Habib Husen: Seorang Mualaf Punya Hak Khusus Dalam Islam
Namun perubahan hati tersebut, kata Habib Husen tidak akan menghapuskan nilai-nilai akhlak yang telah difitrahkan kepada manusia, melainkan hanya bersifat menutupi saja.
"Kita kerap jumpai banyak orang-orang musyrik dahulu yang begitu keras, seperti sayyidina umar bin khattab yang mempertahankan keyakinannya, begitu melihat cahaya kebenaran langsung mereka menerima," kata Habib Husen Al-Attas.
Akhlak sendiri merupakan suatu tingkah laku seseorang yang didorong oleh sesuatu keinginan secara mendasar untuk melakukan suatu perbuatan. Bila seorang mukmin memiliki akhlak yang baik maka akan melahirkan amal perbuatan baik pula.
Baca Juga: Teladan Umar bin Khattab Lindungi Gereja dan Umat Kristiani di Al-Quds
Selaras dengan fitrah, akhlak sebenarnya telah tertanam dalam diri manusia sejak dilahirkan. Dan bukan sesuatu yang baru ditanamkan sejak diutusnya para Nabi oleh Allah SWT.
"Oleh karena itu tugas Nabi bukan menanamkan nilai akhlak, tapi mengasah, mengasuh, dan menyempurnakan akhlak," kata kata Habib Husen Al-Attas.
(jqf)