LANGIT7.ID, Jakarta - Menjadi mualaf merupakan keputusan yang penuh pengorbanan karena akan banyak pihak menganggap hal tersebut sebuah penghianatan. Namun demikian, pengorbanan itu menjadi nilai perjuangan untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
Seperti yang dirasakan Agus Wijayanto Tan atau akrab disapa Agus Tan. Ia memutukan masuk Islam meski sebelumnya merupakan seorang pendeta di agama terdahulunya.
"Jadi saya dulu pendeta di Surabaya dan mengabdi selama dua tahun. Sebab saya pernah merasakan klimaks kehidupan hingga memutuskan untuk lebih baik dan sekolah Al Kitab," ujar Agus Tan, dalam ceritanya di kanal YouTube Hidayatullah TV, dikutip
Langit7.id, Senin (26/9/2022).
Setelah lulus sekolah pada 2012, Agus melanjutkan pelayanan di tempat ibadah agama terdahulunya. Namun, Agus justru mendapatkan banyak keraguan.
Baca Juga: Kuatkan Iman dan Silaturahmi Antar-Mualaf, Masjid Sunda Kelapa Gelar Sarasehan Mualaf"Dalam proses belajar saya tidak bisa membuktikan, baik
de jure maupun
de facto bahwa Yesus itu Tuhan. Dari awal saya bimbang tapi saya berusaha senantiasa membuktikan bahwa Yesus Tuhan, tapi mentok. Keraguan saya makin dalam," ucap Agus.
Agus yang merupakan ahli kitab agama terdahulunya ini mengaku mengalami ketakutan karena banyak sesuatu yang hilang. "Karena keraguan ini saya diskusi dengan tokoh-tokoh (agama terdahulunya) di Sumbaya cuma beliau tidak mau," ujar Agus.
Setelah itu, Agus memutuskan untuk belajar dengan salah satu tokoh organisasi Islam, Front Pembela Islam (FPI) soal ketuhanan. Sebab ia merasa timbul keraguan luar biasa dalam agamanya.
"Saya menemukan dalam perjanjian lama, bahwa Allah itu Esa. Tapi Esa yang mananya menurut saya karena ada Allah Bapa, Anak Allah, Roh Kudus, dan Bapak Putra itu kan tidak disebutkan secara
de facto," kata Agus.
Baca Juga: Kisah Mualaf Dondy Tan, Berawal Penasaran dari Ceramah Ahmed DeedatHingga akhirnya Agus mendapatkan jawaban ilmiah terkait keraguannya ini dari ulama FPI tersebut. "Islam memiliki idealisme dan aturan yang jelas. Aturan ini yang saya cari, (agama terdahulunya) aturannya tidak jelas, menurut saya," tuturnya.
Lalu Agus memutuskan menjadi seorang mualaf meski harus mengorbankan banyak hal di kehidupannya. "Saya punya anak dua dan putuskan untuk berhijrah tapi saya (dengan istri) harus berpisah. Itu salah satu pengorbanan, tapi saya bersyukur bisa menjemput hidayah Allah SWT," kata Agus.
(zhd)