LANGIT7.ID, Jakarta -
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) atau sering disebut jantung bocor merupakan kondisi cacat lahir yang paling sering menimbulkan kematian pada bayi di Indonesia.
Merujuk dari Kemenkes, Rabu (28/9/2022), di Indonesia terdapat 4
bayi lahir dengan kondisi seperti ini setiap jamnya. Dan dari setiap 1000 penduduk terdapat 6 orang yang menderita PJB.
Kemudian, setiap tahunnya jumlah penderitanya meningkat 5 persen, atau setara dengan kapasitas penuh stadion Gelora Bung Karno.
Ketika seseorang didiagnosa memiliki PJB, hal tersebut berarti orang itu memiliki kondisi kelainan pada struktur dan fungsi jantung yang sudah ada sejak lahir.
Baca Juga: 5 Makanan Sehat untuk Jantung, Bagus Dikonsumsi HarianUntuk spektrum akhir PJB sangat luas, ada yang meninggal sesaat setelah lahir, ada juga yang bertahan hidup sampai di atas 60 tahun.
Ada yang langsung bergejala saat lahir, ada yang baru muncul gejala saat usia tertentu (usia dewasa), ada yang tidak bergejala sampai sembuh spontan.
Semua orang tahu bahwa jantung normal terdiri dari 4 ruang (2 serambi dan 2 bilik) yang dibatasi oleh dinding, sekat, dan katup, serta terdapat juga beberapa pembuluh darah besar sebagai penghubung jantung dengan organ lain.
Darah dipompa oleh jantung dalam suatu sirkulasi dan arah tertentu sehingga dapat mengedarkan darah ke paru-paru dan seluruh tubuh.
Ketika ada kelainan pada dinding tersebut, maka sekat, katup, atau pembuluh darah besar ini akan mengubah alur sirkulasi darah, bercampurnya darah kaya oksigen dan miskin oksigen, mengganggu fungsi jantung, dan pada akhirnya menimbulkan keluhan serta gejala pada pasien.
Umumnya hingga saat ini penyebab pasti PJB tidak diketahui. Namun ada beberapa kondisi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya PJB.
Misal infeksi rubela (terutama pada trimester pertama), konsumsi obat-obatan tertentu, merokok atau minum alkohol, diabetes yang tidak terkontrol, ibu atau bayi menderita kelainan kromosom (misalnya sindrom Down), serta faktor keturunan.
Jantung bocor ini dapat diketahui sejak masih dalam kandungan melalui USG rutin yang dilakukan ibu hamil, ataupun setelah bayi dilahirkan.
Perlu diingat, tidak semua PJB menunjukkan gejala, terkadang samar-samar, sebab hal itu tergantung pada derajat keparahannya.
Saking samarnya gejala, tidak banyak orang tua yang memperhatikan dan sadar bahwa anaknya menunjukkan gejala PJB. Akibatnya, si anak terlambat mendapat penanganan.
Untuk lebih memahami, berikut gejala PJB yang kerap muncul:
1. Detak jantung berdebar-debar Ketika Anda mengalami kondisi dimana detak jantung berjalan dengan yang cepat atau berdebar-debar. Maka, segeralah periksa dengan meraba detak jantung di dada, nadi di pangkal paha, pergelangan tangan, siku dalam, atau di pembuluh darah besar di leher.
2. Napas cepat Gejala PJB lainnya yakni napas menjadi cepat, napas cuping hidung, otot dada atau otot leher yang tertarik saat bernapas.
3. Ada pembengkakan di beberapa bagian tubuhSaat beberapa bagian tubuh Anda mengalami bengkak seperti pada kedua kaki, perut, atau sekitar mata maka waspada itu bisa saja gejala PJB.
4. Tampak lelah saat minumUntuk bayi, ketika mereka berada di kondisi tersengal-sengal dan tampak lelah saat minum, itu bisa saja terkena jantung bocor.
5. KelelahanPada dasarnya dunia anak adalah bermain, tetapi ketika mereka merasakan sangat kelelahan dan menjadi kurang aktif bermain maka mungkin saja ia PJB.
Selain itu, mudah pingsan dan kebiruan pada bibir atau jari-jari yang bertambah saat menangis, minum, atau bermain juga termasuk gejalanya.
6. Pertumbuhan terlambatGejala lainnya adalah pertumbuhan anak terhambat, berat badan rendah dan sulit naik. Kemudian, kerap mengalami infeksi paru atau batuk secara berulang.
Untuk mencegah agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, maka ketika orang terdekat Anda mengalami gejala seperti yang tertera diatas, segera anjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter jantung.
Konsultasikan dengan dokter untuk kejelasan tatalaksana dan pastikan Anda tidak melewatkan setiap sesi kontrol.
(bal)