Mayoritas manusia terjebak di dalam kebahagiaan fisik, yang merupakan
kebahagiaan terendah di alam semesta, karena memang semua manusia pernah merasakan kebahagiaan fisik ini.
Maka tak usah heran, banyak orang yang memburu kelezatan makanan dan minuman berkilo-kilo jauh dari rumahnya, bahkan hingga ke luar negri. Hanya untuk mencicipi beberapa menit lidah menikmati kelezatan fisik.
Kebahagiaan tertinggi adalah mengenal Allah SWT. Orang yang mencari kebahagiaan, kemudian menemukan kebahagiaannya di luar mengenal Allah SWT. Maka ia belum mencapai puncak kebahagiaan.
Baca Juga: Hikmah Senyuman: Buat Orang Lain Bahagia dan Kurangi StresTiada kebahagiaan tanpa sakinah (ketenangan) dan thuma’ninah (ketentraman). Dan tiada ketenangan dan ketentraman tanpa iman.
Imam AlGhazali Dalam kitabnya Mizan al-A’mal memberikan pendefinisian tentang makna kebahagiaan, di antaranya; "Kebahagiaan adalah keabadian tanpa kesementaraan, kenikmatan tanpa kepayahan, kegembiraan tanpa kesedihan, kekayaan tanpa kefakiran, kesempurnaan tanpa kekurangan, kemuliaan tanpa kehinaan."
Dalam kitab Nasha'ihul Ibaad dikatakan:
أسعَدُ النّاسِ مَن لَه قَلْبٌ عَالِمٌ وَبَدَنٌ صَابِرٌ وَقَنَاعَةٌ بِمَا فِي اليَد
Manusia yang paling bahagia adalah dia yang hatinya mengenal Tuhannya, tubuhnya tak lelah beribadah kepadaNYA dan menerima dengan lapang ( puas) atas apa saja yang diberikan oleh Tuhannya
Salah satu kunci seseorang dapat dengan mudah bahagia adalah dengan memahami siapa dirinya. Hal ini sebagai dasar dari timbulnya rasa kebahagiaan dalam diri manusia.
Pada akhirnya, Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuasai nafsunya.”
Pilihlah bahagia....! ????????????????????
(bal)