Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita

MUHARRAM BANGKIT BERSAMA (7) | Prof Syafiq Mughni: Sektor Pendidikan Paling Strategis Membangun Peradaban

ahmad zuhdi Senin, 16 Agustus 2021 - 05:00 WIB
MUHARRAM BANGKIT BERSAMA (7) | Prof Syafiq Mughni: Sektor Pendidikan Paling Strategis Membangun Peradaban
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Syafiq Mughni. Foto: Muhammadiyah.or.id
Muharram adalah momentum bangkit dari ketertinggalan masyarakat Indonesia dalam persaingan global. Tantangan masyarakat dewasa ini adalah bagaimana menguatkan pola pendidikan berbasis keluarga dengan terjadinya penyesuain pembelajaran dengan sistem pendidikan jarak jauh (PJJ) dan berbasis dalam jaringan (daring/ online).

Pendidikan adalah sektor yang paling strategis untuk membangun peradaban. Karena itu, pendidikan harus menjadi kesadaran kolektif dan total. Sementara penguatan akidah dan akhlak adalah hal yang mutlak; apabila rusak, maka rusaklah negara, dan apabila baik, maka baiklah negara itu.

Wartawan LANGIT7.ID, Ahmad Zuhdi, berkesempatan melakukan wawancara dengan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Syafiq Mughni. Pria kelahiran Lamongan, 15 Juni 1954, ini menamatkan pendidikan dasar di MI Muhammadiyah Lamongan dan MA 6 Tahun di Pesantren Persis Bangil. Dia selesaikan S1 di IAIN (UIN) Surabaya, kemudian S2 dan S3 di UCLA Amerika Serikat. Prof Syafiq Mughni menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo pada 2001–2006.

Selain seputar pendidikan, guru besar Fakultas Adab, bidang Sejarah Kebudayaan Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya, ini juga menjawab berbagai pertanyaan lain mengenai kebangkitan ummat melalui momentum Muharram. Berikut petikan wawancaranya:

1 Muharram adalah Momentum Kebangkitan Bersama. Apa upaya agar ummat Islam bangkit bersama dari spirit Hijrah Nabi Muhammad SAW?

Semangat kebangkitan Islam harus terus-menerus digaungkan agar menjadi spirit memajukan umat khususnya pada momen-momen tertentu seperti awal tahun hijriyah ini. Salah satu faktor penting untuk memajukan umat adalah persatuan. Allah telah memperingatkan dalam al-Qur’an bahwa umat harus bersatu, jangan terpecah belah, supaya memiliki wibawa dan pengaruh yang kuat terhadap kehidupan umat manusia.

Baca Wawancara Lainnya: Rektor UIN Jakarta: Indonesia Sangat Dinanti Ummat Islam Dunia

Upaya yang pertaman kali dilakukan oleh Nabi ketika sampai di Madinah adalah mempersatukan potensi yang beragam suku dan agama agar menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang kuat.

Jika dimulai dari generasi muda, bagaimana membentengi mereka dari pengaruh luar?

Dalam masa seperti sekarang kebebasan informasi sulit dibatasi. Selain dampak positif, banyak juga dampak negatifnya. Cara yang efektif untuk menekan dampak negatif itu ialah membekali masyarakat umum, khususnya generasi muda, dengan kemampuan literasi.

Mereka perlu kemampuan untuk memilah mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan, mana informasi yang benar dan mana yang salah, antara yang bisa dipercaya dan yang bohong. Dampak buruk rendahnya budaya literasi bisa merambah ke mana-mana, ke seluruh aspek kehidupan kita.

Lalu, bagaimana implementasi Islam sebagai sumber nilai di tengah-tengah masyarakat?

Islam adalah sumber nilai yang menjadi dasar dari seluruh kehidupan kita. Sekalipun Nabi Muhammad SAW bahwa urusan agama adalah wewenang Nabi, dan urusan dunia adalah urusan kita sendiri. Tetapi norma-norma dan nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi itu menyentuh totalitas kehidupan.

Baca Juga: Gubernur Sumbar: Baca Sejarah! Kita Merdeka karena Kompak dan Bersatu

Jika dikaitkan dengan ilmu pengetahuan atau sains, maka dorongan agama untuk mencari ilmu, menguasai ilmu, dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan itu sangat penting. Dan bagaimana menyikapi ilmu, sesungguhnya agama itu sendiri menjadi sumber ilmu yang terus-menerus dikembangkan. Kajian agama menjadi subyek yang tidak pernah kehilangan relevansinya dengan perkembangan kontemporer.

Terkait dengan konsep Islam Wasathiyyah atau Islam moderat, ada semangat dan sikap toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan adil (i'tidal). Menurut Anda?

Misi atau risalah Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam. Rahmat itu akan terwujud jika kita memahami dan mengamalkan wasathiyah, bukan ekstremisme atau ghuluw dan tatharruf. Islam itu sendiri sesungguhnya agama wasathiyah dan mendorong pengamalan yang bercorak wasathiyah. Ini sangat penting ditekankan. Maka, seluruh media dan wahana pendidikan agama harus mengarusutamakan ini. Media juga harus terus menerus melakukan pencerahan.

Untuk pencerahan ummat, bagaimana peran agama seharusnya?

Sebagian ulama, tokoh dan ormas Islam sesungguhnya telah bergerak cepat dan bersungguh-sungguh mengerahkan seluruh dayanya untuk menanggulangi pandemik ini serta dampak-dampaknya. Ini dilakukan baik diminta maupun tidak.

Pemahaman agama yang benar dan sikapnya terhadap ilmu pengetahuan yang positif sangat berguna untuk menekan pandemic ini. Jangan sampai ajaran agama itu digunakan untuk mendatangkan kemadlaratan, karena salah satu tujuan agama itu adalah kemaslahatan.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, perlukah gerakan bersama ummat untuk bangkit bersama?

Tentu ini sangat perlu. Umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk negara kita harus tampil di barisan terdepan untuk memberikan solusi. Kesimbangan antara kepentingan kesehatan dan ekonomi perlu dijadikan acuan. Tetapi sering kali dua hal itu menimbulkan dilema, maka kita harus memilih prioritas yang tepat dan menentukan mana yang menjadi problem kunci.

Di sektor pendidikan, pembelajaran digalakkan dan dikembalikan ke rumah. Nah, bagaimana menjadikan rumah sebagai sekolah, serta rumah ilmu dan rumah pendidikan?

Betul sekali. Rumah harus benar-benar berfungsi sebagai pusat pendidikan. Sekalipun sebagian perannya sudah diserahkan ke sekolah, masjid atau mushalla, tetapi ketika lembaga-lembaga pendidikan di luar rumah tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik, rumah harus siap mengambil tanggung jawab Pendidikan.

Di sinilah keasadaran orang tua menjadi sangat penting. Dalam masa pandemi ini, sekolah tidak bisa memainkan peran dalam pendidikan interkasi sosial, human relation, pengembangan karakter dan kedalaman spiritual.

Jika dilihat 20 hingga 30 tahun ke depan, kira-kira bagaimana kesiapan generasi muda Islam saat ini?

Pendidikan adalah sektor yang paling strategis untuk membangun peradaban, dan bagi Indonesia untuk meraih Indonesia emas. Tetapi pendidikan tidak mungkin berjalan sendirian. Pendidikan itu mudah sekali diganggu oleh kepentingan politik atau ekonomi yang tidak selaras dengan cita-cita pendidikan.

Karena itu, pendidikan harus menjadi kesadaran kolektif dan total. Penguatan akidah dan akhlak adalah hal yang mutlak; apabila rusak, maka rusaklah negara, dan apabila baik, maka baiklah negara itu.

Baca Wawancara Lainnya:

Potensi Indonesia Sangat Besar Jika Ummat Islam Jalankan Syariat

Rektor Perbanas Institute: Perbankan Syariah, Kenapa Masih Ragu?


(jak)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan