Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

5 Solusi Efektif Menangani Konflik Antarkelompok

Muhajirin Senin, 03 Oktober 2022 - 20:13 WIB
5 Solusi Efektif Menangani Konflik Antarkelompok
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Konflik antarkelompok bisa berujung kerusuhan jika tidak diselesaikan dengan baik. Pemecahan konflik bisa dilakukan dengan beberapa cara, salah satu di antaranya memunculkan tujuan bersama. Artinya, tujuan individu-individu bisa disubstitusikan pada tujuan yang lebih besar untuk kepentingan bersama.

Kuncinya, pemerintah harus mengedepankan kepentingan bersama dengan memperhitungkan dampak yang terjadi dalam kehidupan bangsa dan negara.

Baca juga: Prasangka hingga Fanatisme, Ini 5 Penyebab Konflik Berujung Kerusuhan

Ketua Pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Dr. Andik Matulessy, menjelaskan, permasalahan konflik antarkelompok harus mendapatkan perhatian yang lebih serius dari semua pihak itu karena penyelesaian persoalan ini harus lebih komprehensif. Beberapa solusi itu antara lain:


1. Cepat dan Tanggap Memperhatikan Ketidakpuasan Masyarakat


Ketidakpuasan (subjective dissatisfaction) menjadi faktor utama munculnya gerakan sosial. Ini harus menjadi perhatian serius dari jajaran pemerintah, agar konflik antarkelompok bisa dicegah.

“(Gerakan sosial akan muncul) selama masih banyak persoalan tentang ketidakadilan, pengangguran, dan tekanan ekonomi dikaitkan atau dijadikan dasar munculnya konflik antarkelompok,” kata Andik dalam tulisannya di laman andimatulessy.untag.sby, dikutip Senin (3/10/2022).


2. Penegakan Hukum Lebih Tegas dan Transparan


Menurut Andik, diperlukan tindakan hukum yang lebih tegas dan transparan pada pemicu kerusuhan. Selama ini, kata dia, ada kesan pelaku kerusuhan tidak pernah mendapatkan law enforcement yang sepadan.

Baca juga: Mengenal Gas Air Mata yang Dipakai saat Kerusuhan Kanjuruhan

“Karena adanya kendala bukti dan saksi dalam kegiatan massa sulit didapatkan serta dukungan dari tokoh dan anggota kelompoknya membuat aparat sulit memberikan punishment kepada mereka,” ujarnya.


3. Meningkatkan Komunikasi Antarkelompok


Konflik bisa diselesaikan dengan meningkatkan komunikasi di antara kelompok untuk mengurangi prasangka serta mempererat kerukunan. Komunikasi ini dalam bentuk dialog interaktif secara kontinu dengan tujuan untuk membangun kesadaran sebagai bagian dari masyarakat plural.

“Membangun kegiatan bersama untuk membangun rasa percaya di antara kelompok, serta refleksi dan renungan kebersamaan untuk menyikapi perbedaan visi kehidupan,” kata Andik.


4. Tidak Menjadikan Konflik sebagai Alat Politik


Pemuka kelompok harus sadar untuk tidak menjadikan konflik sebagai alat politik. Ini memang tidak mudah, karena konflik berarti kekuasaan, dan fanatisme kelompok merupakan kesadaran politik yang paling ampuh untuk mendapatkan kekuasaan.

Baca juga: Muhammadiyah Sesalkan Penggunaan Gas Air Mata Tangani Kerusuhan di Kanjuruhan

“Padahal sebagian besar masyarakat tergolong pada masyarakat level bawah, yang mengedepankan emosi pada para pemimpinnya, ditambah dengan kekuarangmampuan mengulas konflik dengan lebih bijaksana dalam Tataran wacana, sehingga mudah sekali digiring pada aksi brutal untuk mempertahankan kelompoknya,” kata Andik.


5. Meningkatkan Kesadaran Kelompok


Menurut Andik, hal paling penting adalah penyelesaian yang terfokus pada peningkatan kesadaran kelompok. Ini merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan konflik antarkelompok.

“Pembinaan pada anggota kelompok diarahkan pada peningkatakn kualitas akan nilai-nilai kebenaran dan menumbuhkan sikap toleransi adalah sesuatu yang paling efektif,” kata Andik.

Baca juga: Nomor Layanan Informasi Pencarian Korban Kerusuhan di Kanjuruhan

Dalam kehidupan sosial yang semakin penuh dengan kompetisi, maka penghayatan akan toleransi masih merupakan wacana yang sulit diimplementasikan.

Orang masih melakukan proses heuristics atau mental short-cut dalam mempersepsikan segala hal yang terkait dengan orang lain.

“Ada prototipe di dalam struktur koginitif seseorang yang dibangun dari sebuah proses interaksi dan internalisasi dengan lingkungan sosialnya, dalam arti kultur, agama, etnis, atau lingkungan keluarga,” ujarnya.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)