LANGIT7.ID - , Jakarta -
Konflik antarkelompok bisa berujung kerusuhan jika tidak diselesaikan dengan baik. Pemecahan konflik bisa dilakukan dengan beberapa cara, salah satu di antaranya memunculkan tujuan bersama. Artinya, tujuan individu-individu bisa disubstitusikan pada tujuan yang lebih besar untuk kepentingan bersama.
Kuncinya, pemerintah harus mengedepankan kepentingan bersama dengan memperhitungkan dampak yang terjadi dalam kehidupan bangsa dan negara.
Baca juga: Prasangka hingga Fanatisme, Ini 5 Penyebab Konflik Berujung KerusuhanKetua Pengurus Himpunan
Psikologi Indonesia (HIMPSI), Dr. Andik Matulessy, menjelaskan, permasalahan konflik antarkelompok harus mendapatkan perhatian yang lebih serius dari semua pihak itu karena penyelesaian persoalan ini harus lebih komprehensif. Beberapa solusi itu antara lain:
1. Cepat dan Tanggap Memperhatikan Ketidakpuasan Masyarakat
Ketidakpuasan (
subjective dissatisfaction) menjadi faktor utama munculnya gerakan sosial. Ini harus menjadi perhatian serius dari jajaran pemerintah, agar konflik antarkelompok bisa dicegah.
“(Gerakan sosial akan muncul) selama masih banyak persoalan tentang ketidakadilan, pengangguran, dan tekanan ekonomi dikaitkan atau dijadikan dasar munculnya konflik antarkelompok,” kata Andik dalam tulisannya di laman andimatulessy.untag.sby, dikutip Senin (3/10/2022).
2. Penegakan Hukum Lebih Tegas dan Transparan
Menurut Andik, diperlukan tindakan hukum yang lebih tegas dan transparan pada pemicu kerusuhan. Selama ini, kata dia, ada kesan pelaku kerusuhan tidak pernah mendapatkan
law enforcement yang sepadan.
Baca juga: Mengenal Gas Air Mata yang Dipakai saat Kerusuhan Kanjuruhan“Karena adanya kendala bukti dan saksi dalam kegiatan massa sulit didapatkan serta dukungan dari tokoh dan anggota kelompoknya membuat aparat sulit memberikan
punishment kepada mereka,” ujarnya.
3. Meningkatkan Komunikasi Antarkelompok
Konflik bisa diselesaikan dengan meningkatkan komunikasi di antara kelompok untuk mengurangi prasangka serta mempererat kerukunan. Komunikasi ini dalam bentuk dialog interaktif secara kontinu dengan tujuan untuk membangun kesadaran sebagai bagian dari masyarakat plural.
“Membangun kegiatan bersama untuk membangun rasa percaya di antara kelompok, serta refleksi dan renungan kebersamaan untuk menyikapi perbedaan visi kehidupan,” kata Andik.
4. Tidak Menjadikan Konflik sebagai Alat Politik
Pemuka kelompok harus sadar untuk tidak menjadikan konflik sebagai alat politik. Ini memang tidak mudah, karena konflik berarti kekuasaan, dan fanatisme kelompok merupakan kesadaran politik yang paling ampuh untuk mendapatkan kekuasaan.
Baca juga: Muhammadiyah Sesalkan Penggunaan Gas Air Mata Tangani Kerusuhan di Kanjuruhan“Padahal sebagian besar masyarakat tergolong pada masyarakat level bawah, yang mengedepankan emosi pada para pemimpinnya, ditambah dengan kekuarangmampuan mengulas konflik dengan lebih bijaksana dalam Tataran wacana, sehingga mudah sekali digiring pada aksi brutal untuk mempertahankan kelompoknya,” kata Andik.
5. Meningkatkan Kesadaran Kelompok
Menurut Andik, hal paling penting adalah penyelesaian yang terfokus pada peningkatan kesadaran kelompok. Ini merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan konflik antarkelompok.
“Pembinaan pada anggota kelompok diarahkan pada peningkatakn kualitas akan nilai-nilai kebenaran dan menumbuhkan sikap toleransi adalah sesuatu yang paling efektif,” kata Andik.
Baca juga: Nomor Layanan Informasi Pencarian Korban Kerusuhan di KanjuruhanDalam kehidupan sosial yang semakin penuh dengan kompetisi, maka penghayatan akan toleransi masih merupakan wacana yang sulit diimplementasikan.
Orang masih melakukan proses heuristics atau mental short-cut dalam mempersepsikan segala hal yang terkait dengan orang lain.
“Ada prototipe di dalam struktur koginitif seseorang yang dibangun dari sebuah proses interaksi dan internalisasi dengan lingkungan sosialnya, dalam arti kultur, agama, etnis, atau lingkungan keluarga,” ujarnya.
(est)