LANGIT7.ID - , Jakarta - Dunia
sepak bola Indonesia tengah berduka. Laga Arema FC vs Persebaya di
Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/10/2022) berbuah petaka. Kapolri Listyo Sigit mengatakan jumlah korban meninggal dunia akibat peristiwa tersebut berjumlah 125 orang.
Ralph K White dalam Ancok, 2004 mengatakan, sebenarnya tidak seorangpun yang menyukai
konflik atau peperangan. Itu berarti manusia sebenarnya juga menginginkan keterdekatan dan kerjasama dengan orang lain, berinteraksi secara positif, dan menjalin hubungan yang lebih satu sama lain.
Baca juga: Mengenal Gas Air Mata yang Dipakai saat Kerusuhan KanjuruhanAkan tetapi, realitas di lapangan sering terjadi konflik. Ketua Pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Dr. Andik Matulessy, menjelaskan, ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab konflik yang berujung pada
kerusuhan.
1. Prasangka Sosial
Prasangka merupakan fenomena yang terjadi antarkelompok yang cenderung berkonotasi negatif. Prasangka bisa muncul karena ada konflik atau kompetisi antarkelompok.
Prasangka itu berkaitan erat dengan stereotipe negatif pada kelompok lain atau sitgma yang melekat. Prasangka mengkristal karena tidak pernah ada penyelesaian yang tuntas.
“Pada akhirnya prasangka yang tak kunjung selesai akan menciptakan keinginan untuk melakukan
diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan,” kata Andik dalam tulisannya di laman andimatulessy.untag.sby, dikutip Senin (3/10/2022).
Dari situ akan muncul konsep
in-group dan
out-group yang menganggap kelompok dan orang seide serta seideologi sebagai kelompok benar. Sebaliknya, orang yang berseberangan dianggap ancaman.
2. Fanatisme Berlebihan dan Keliru
Pertentangan antarkelompok bisa muncul karena fanatisme, lalu menganggap rendah kelompok lain. Akhirnya, semua yang berkaitan dengan kelompok lain dianggap negatif, bahkan bisa dianggap musuh.
Baca juga: Nomor Layanan Informasi Pencarian Korban Kerusuhan di Kanjuruhan“Akhirnya pandangan negatif tersebut akan menjadi bibit permusuhan antarkelompok,” kata Andik.
3. Kurangnya Komunikasi
Pertentangan atau permusuhan kadangkala disebabkan oleh ketidaklancaran dalam mengomunikasikan pesan. Pesan ditangkap oleh orang lain sebagai sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi pesan.
Dari situ muncul kesalahan persepsi akan maksud pesan tersebut yang berlanjut ketegangan antara pemberi pesan dan Penerima pesan. Begitu pun dalam kehidupan sosial, ketegangan bisa terjadi bila salah mempersepsikan pesan.
“Oleh karena itu, perlu adanya komunikasi antara kelompok agar tercapai kesamaan persepsi atau sensivitas akan maksud dan tujuan pesan yang dikomunikasikan,” ujar Andik.
4. Campur-Aduk Kepentingan
Ketegangan bisa muncul karena suatu kelompok mencampuradukkan kepentingan. Misal kepentingan agama yang memang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor lain.
Itu menyebabkan umat beragama terpecah menjadi berbagai kepentingan yang mempunyai misi dan visi berbeda. Akhirnya, jika muncul ketegangan di antara berbagai kepentingan, maka tidak bisa dipisahkan dari atribut kepentingan politik atau ekonomi.
Baca juga: Polri Fokus Beri Pertolongan Medis ke Korban Kerusuhan Kanjuruhan“Apalagi memiliki kekuasaan politik berarti mempunya kekuasaan yang lebih dibanding yang lain. Hal inilah yang seringkali menimbulkan pertikaian dalam kehidupan beragama,” kata Andik.
5. Akumulasi Permasalahan Sosial-Ekonomi
Ketegangan bisa muncul akibat terakumulasi permasalahan sosial-ekonomi, seperti kemiskinan dan pengangguran. Apalagi jika dikaitkan dengan persoalan SARA.
“Hal tersebut bisa menjadi
precipitating factor/event yang ampuh dalam memunculkan kerusahan. Apalagi ada provokator yang mampu memenej isu, sehingga mudah membakar massa yang sudah frustasi dengan saabreg ketidakpuasam” ujar Andik.
(est)