LANGIT7.ID - , Jakarta - Metamfetamin atau
sabu-sabu merupakan salah satu jenis narkotika yang berbentuk bubuk kristal putih, tidak berbau, rasa pahit yang mudah larut dalam air atau
alkohol. Sama halnya dengan jenis lainnya, sabu jika disalahgunakan dapat berbahaya bagi
kesehatan.
Medical News Today, dikutip Sabtu (15/10/2022), menyebutkan ada lima
dampak buruk yang ditimbulkan dari sabu-sabu, baik dari sisi kesehatan hingga kehidupan sosial.
Baca juga: Terlibat Kasus Narkoba, Irjen Teddy Minahasa Batal jadi Kapolda Jatim
Adiktif
Metamfetamin sangat adiktif, sebab dopamin tetap berada di sinapsis otak untuk waktu yang lama setelah digunakan. Dopamin membuat sel-sel otak tetap aktif, memungkinkan pengguna untuk mengalami perasaan euforia yang kuat.
Setelah beberapa saat, seseorang tidak dapat memproduksi dopamin secara alami dan membutuhkan obat untuk merasa normal kembali. Kondisi ini membutuhkan dosis yang lebih besar untuk mengalami perasaan senang.
Berhenti memakai mentamfetamin atau met, tidak langsung membawa pengaruh pada fisik seperti halnya heroin. Namun, pengguna sabu-sabu akan merasa
sangat lelah,
depresi mental, lekas marah, apatis, dan disorientasi.
Terkena masalah jantung dan stroke
Penyalahgunaan obat dengan tekanan darah tinggi, dapat menyebabkan stroke, dan masalah jantung lainnya, seperti kematian jantung mendadak, toksisitas miokard akut dan kronis serta penyakit arteri koroner.
Kerusakan gigi
Menggunakan metamfetamin juga dapat membuat gigi Anda rusak parah, seperti membusuk hingga perlu dicabut.
Baca juga: Kapolri Bakal Copot Pejabat Polisi Terlibat Judi Online dan NarkobaSeseorang yang menyalahgunakan metamfetamin mungkin memiliki lebih sedikit air liur di mulut. Hal ini mendorong pertumbuhan bakteri, kerusakan gigi, dan kerusakan jaringan mulut.
Para ahli berpikir penyebab lain, yakni adanya peningkatan konsumsi minuman manis karena perilaku kompulsif, mengepalkan dan menggertakkan gigi serta kebersihan gigi yang buruk.
Penyakit Parkinson
Metamfetamin mungkin memiliki efek neurologis yang jarang pergi setelah seseorang berhenti menggunakan obat.
Sebuah studi tahun 2018 menghubungkan penyalahgunaan metamfetamin dengan peningkatan risiko penyakit Parkinson (penyakit pada sistem saraf yang mengganggu kemampuan tubuh dalam mengontrol gerakan dan keseimbangan) dan onset prematur yang sedang.
Namun, hal tersebut membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menilai faktor-faktor lain yang mempengaruhi risiko pengembangan Parkinson.
Baca juga: Kurangi Korban Narkoba, Aisha Dahlan Luncurkan Buku Bantu Orang Tua Bahagia
Risiko lainnya
Risiko kesehatan lainnya termasuk kemungkinan lebih tinggi tertular penyakit yang ditularkan melalui darah, seperti hepatitis atau HIV, di antara mereka yang menyuntikkan obat.
Konsekuensi sosial dari penggunaan jangka panjang termasuk tekanan finansial, masalah dengan pekerjaan, dan hubungan keluarga.
(est)