LANGIT7.ID - Konsep Islam
Rahmatan Lil-‘Alamin kerap diketengahkan untuk memoderasi agama yang juga dikenal dalam istilah Islam Wasathiyyah. Perlu cara tepat membumikan konsep Islam Wasathiyyah atau Islam Moderat kepada kalangan ummat Islam untuk mencapai kesamaan dengan semangat dan sikap toleransi (
tasamuh), keseimbangan (
tawazun), dan adil (
i'tidal)?
Ulama, tokoh Islam, dan ormas Islam, diminta secara aktif berperan mendukung program pemerintah dalam penanganan Covid-19. Seperti apa peran mereka seharusnya? Perlukah gerakan bersama untuk bangkit di tengah pandemi Covid-19 ini? Untuk generasi muda bangsa Indonesia, bagaimana menyiapkan diri untuk meniti jalan menuju Indonesia Emas 2045 mendatang?
Baca Wawancara Lainnya: Sektor Pendidikan Paling Strategis Membangun PeradabanUntuk menjawab ragam fenomena yang dihadapi ummat saat ini, wartawan
LANGIT7.ID Ahmad Zuhdi, mendapat kesempatan wawancara dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis. Apa dan bagaimana spirit hijrah menurut Kiai Cholil, bagaimana relevansinya dengan semangat kebangsaan dan keindonesiaan? Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana upaya para tokoh di Tanah Air untuk mempersatukan ummat dalam satu tema untuk Peradaban Islam yang diambil dari spirit Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah? Bagi umat Islam, kita punya tenda besar yang namanya Majelis Ulama Indonesia (MUI), untuk menjadi wadah penghimpun, wadah persatuan, berdialog, dan juga wadah perjuangan untuk membangun bangsa dengan spirit agama. Dalam konteks antarumat beragama, di MUI pun juga ada komisi atau bidang yang mengurusi kerukunan umat beragama (KUB). Di sinilah fungsi kelembagaan.
Sebenarnya, bagaimana corak khas MUI? Secara pemikiran, kami mengikuti para founding fathers kita bahwa negara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, kebebasan beragama dijamin oleh pemerintah, dan tidak boleh menodai kepada yang lain. Tentu itu yang secara ideologis kita sepakati bersama.
Maka,
Daarul Mitsaq (negara kesepakatan) sebagai wadah yang mengikat kita adalah wadah NKRI, dan kita bersepakat untuk membangun negeri ini.
Menurut Pak Kiai, bagaimana membentengi generasi muda Islam dari berbagai pengaruh yang dapat menggerus karakter dan nilai-nilai peradaban dalam ajaran agama?Hindari
proxy war, arus globalisasi informasi, kita tanamkan kepada mereka karakter kebangsaan dalam konteks agama dan dasar-dasar agama, sehingga mereka mampu menahan diri dan memberikan pertahanan diri dari perubahan, globalisasi, dan seterusnya. Dengan begitu, kita mampu menjaga karakter keagamaan dan karakter kebangsaan.
Bagaimana mengimplementasikan ajaran-ajaran agama sebagai sumber nilai dalam ilmu pengetahuan di tengah-tengah masyarakat heterogen?Sebagaimana ayat yang turun pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW adalah
iqra bismi Rabbika al-ladzi khalaq, yang berarti membaca dengan menyebut nama Rabb (Allah) yang telah menciptakanmu. Jadi, agama ini tidak bertentangan dengan sains dan sains butuh terhadap landasan agama agar ilmu pengetahuan tidak menjadi perusak bangsa, perusak tatanan alam; itu butuh moral, nilai, adab, dan itu semua ada pada agama.
Baca Wawancara Lainnya:
Rektor UIN Jakarta: Indonesia Sangat Dinanti Ummat Islam Dunia
Gubernur Sumbar: Baca Sejarah! Kita Merdeka karena Kompak dan BersatuKita bisa membuktikan pada saat Covid-19 ini, fatwa-fatwa MUI (merujuk) berdasarkan sains, berdasarkan informasi para medis, dan hasil penelitian.
Ummat sepertinya masih butuh edukasi soal konsep Islam Wasathiyyah atau Islam Moderat. Bagaimana membumikannya kepada mereka? Cara membumikannya kita masukkan dalam fikih, buku-buku ajaran di pesantren, di sekolah, di madrasah, agar mereka memahami Islam yang wasathiyah, yang tidak ekstrem kanan-ekstrim kiri, dan kita bisa tunjukkan dalam perilaku. Jadi, pembiasaan yang pertama adalah pengetahuan, kemudian kedua adalah kesadaran, dan ketiga adalah pembiasaan kepada masyarakat kita.
Di tengah pandemi ini, menurut Pak Kiai, bagaimana menjadikan rumah sebagai rumah ibadah, rumah ilmu dan pendidikan? Berkenaan dengan pendidikan, rumah adalah
madrasatul uula. Tempat pendidikan yang utama ya di rumah, bukan di sekolah, dan bukan di pesantren. Itu adalah pendidikan kedua. Karena itu, pendidikan di rumah itu yang perlu ditanamkan adalah bagaimana mengenal Allah, bagaimana beribadah yang baik, mengamalkan nilai-nilai agama yang juga itu nilai pancasila kita di rumah, ya tentunya di saat normal, kita shalatnya ke masjid. Ada rumah ibadah, untuk interaksi sosialnya yang nggak bisa kita di rumah saja. Meskipun ada media, tetap saja kita butuh bertemu-bertemu itu.
Bagi generasi muda, perlu persiapan untuk menyambut Indonesia Emas dengan penguatan akidah dan akhlak, menurut Pak Kiai?Dalam al-Qur'an surat at-Taubah, Allah menerangkan kepada kita agar tidak semuanya pergi ke medan perang. Jadi, harus ada di antara kita yang ahli agama. Oleh karena itu, menyiapkan Indonesia Emas di 2045 ke depan adalah menyiapkan orang-orang yang ahli agama, yang bisa berseru kepada kebaikan, tentu bisa bermasyarakat dan memasyarakatkan bagaimana membangun akhlak yang mulia, dan budi pekerti yang baik.
(jak)