LANGIT7.ID, Jakarta - Ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abdul Muthalib. Kakek Rasulullah, Abdul Muthalib sempat mengurbankan Abdullah untuk Tuhan di Ka’bah.
Abdul Muthalib adalah tokoh terkemuka di Mekkah yang memiliki kewajiban atas pengelolaan sumur Zamzam. Karena itulah ia juga terbebani tanggung jawab atas penggalian sumur Zamzam.
Masalah timbul ketika Abdul Muthalib memikirkan usianya yang terus beranjak sementara hanya memiliki seorang putra.
Lantas Abdul Muthalib berdoa agar Allah memberinya beberapa anak laki-laki lagi.
Dalam doanya, ia bernazar bila hajatnya terkabul akan mengurbankan salah satu anaknya untuk Tuhan. Doanya terkabul, selang beberapa tahun kemudian ia sudah dikaruinai tambahan 9 anak laki-laki.
Baca juga: Sejarah Syariat Ibadah Haji Sejak Nabi Ibrahim hingga MuhammadAbdullah, ayah Nabi Muhammad lahir paling terakhir. Abdul Muthalib pun membesarkan semua anak-anaknya dengan baik hingga tumbuh dewasa.
Namun, saat melihat Abdullah, dia teringat akan nazarnya yang terdahulu. Abdullah, anak yang tampan menjadi termasuk yang paling disayang oleh Abdul Muthalib.
Setelah Abdullah tumbuh dewasa, Abdul Muthalib mengumpulkan semua putranya dan menceritakan nazarnya. Abdul Muthalib lalu memanggil seorang pengundi panah untuk menentukan siapa yang akan dikurbankan.
Nama Abdullah pun muncul sebagai pemenang undian. Abdul Muthalib yang berdiri di samping berhala Hubal sebagai saksi langsung menuntun Abdullah ke dari Ka’bah ke tempat pengorbanan sambil menggenggam sebuah pisau.
Namun, Abdullah yang lahir dari rahim Fathimah ini spesial karena nasabnya. Fathimah adalah wanita Quraisy dari Bani Makhzum yang memiliki pengaruh, keturunan Abd, salah satu putra Qushay.
Melihat bahwa Abdullah akan disembelih Abdul Muthalib, masyarakat Bani Makzhum yang berkumpul di Ka’bah pun protes. Saudara-saudara Abdullah yang berada di dalam Ka’bah pun keluar melakukan hal serupa.
Pengurbanan Abdullah pun akhirnya ditangguhkan. Abdul Muthalib lalu berangkat ke Yastrib untuk berkonsultasi dengan seorang wanita yang dianggap bijak.
Baca juga: Ketika Rasulullah Bercanda dengan Sahabat dan Sang IstriSingkat cerita, wanita itu menyarankan agar menyertakan unta dalam proses pengundian anak panah. Jika anak panah jatuh di salah satu anak lelakinya, saran wanita itu, tambahkanlah sepuluh ekor unta lagi, begitu seterusnya hingga Tuhan menerima unta itu dan anak panahnya.
Saat di Ka’bah, Abdul Muthalib membariskan sepuluh anaknya berdampingan dengan sepuluh ekor unta. Proses pengundian anak panah pun dilakukan dan anak panah lagi-lagi terjatuh di depan Abdullah.
Maka Abdul Muthalib kembali menambahkan sepuluh ekor unta. Undian kembali dijalankan dan lagi-lagi jatuh di depan Abdullah, proses pengundian terus berjalan di mana anak panah selalu terjatuh di depan Abdullah.
Hingga sampai 100 unta telah ditambahkan, barulah anak panah jatuh di depan unta-unta itu. Meski demikian, Abdul Muthalib ingin memastikan lagi demi keputusan yang tepat.
Pengundian anak panah kembali dilakukan hingga tiga kali pelepasan, tapi anak panah tersebut selalu jatuh di depan unta. Barulah Abdul Muthalib yakin bahwa Tuhan telah menerima penebusannya dan 100 unta tersebut disembelih sebagai kurban.
Sumber: Muhammad, His Life Based on the Earliest Sources oleh Martin Lings (1991).(sof)