LANGIT7.ID - , Jakarta - Konferensi
Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menghasilkan deklarasi untuk memerangi
disinformasi dan
Islamofobia. Deklarasi tersebut disepakati di sesi ke-12 Konferensi Islam Menteri Informasi OKI di
Istanbul, Turki, Sabtu (22/10/2022).
Deklarasi tersebut bertujuan untuk memerangi disinformasi sistemik di
era digital. Dalam deklrasi tersebut, anggota OKI menegaskan kembali dukungan bulat mereka untuk mengutuk segala bentuk ekstremisme, kekerasan,
radikalisasi, dan
terorisme.
Baca juga: Arsitek Arab Saudi Rancang Masjid Transparan untuk Lawan IslamofobiaKonferensi yang mengangkat tema "Combating Disinformation and Islamophobia in the Post-truth Era”, yang berlangsung pada 20-22 Oktober, dihadiri oleh para menteri tingkat tinggi dan perwakilan dari 57 negara. Mereka berupaya memperdalam kerja sama di bidang media dan informasi di dunia Islam untuk mengatasi penyebaran disinformasi agama.
Pada awal sesi pembukaan,
Arab Saudi menyerahkan kepemimpinan konferensi ke Turki.
Dalam pidatonya, Penjabat Menteri Media Arab Saudi Dr. Majid bin Abduallah al-Qasabi menyebutkan tantangan yang sedang disaksikan dunia saat ini, khususnya di bidang informasi dan media. Direktur Komunikasi Turki Fahrettin Altun pun menggemakan hal yang sama.
“Ada tanggung jawab besar di pundak konferensi, terutama karena kesalahan informasi media sedang meningkat dan [ini] menimbulkan masalah besar mengingat sulitnya mengakses kebenaran di seluruh dunia,” kata Fahrettin Altun, dikutip dari Al Arabiya, Senin (24/10/2022).
Baca juga: Selain AS dan UK, India Dominasi Konten Islamofobia di TwitterSementara, Sekjen OKI Hissein Brahim Taha mengatakan, sidang tersebut bertujuan untuk membahas tantangan yang dihadapi sektor media, khususnya di negara-negara anggota OKI, serta mengkaji wacana media terkait masalah agama.
Dia juga mencatat bahwa meningkatnya wacana terorisme dan ekstremisme telah berhasil “memikat” segmen populasi yang lebih muda.
"Disinformasi dan Islamofobia saat ini merupakan salah satu praktik paling serius untuk memalsukan fakta dan menyesatkan opini publik lokal dan internasional" kata Taha.
Taha meminta media untuk memerangi fenomena ini tanpa henti, mendesak outlet media dan institusi untuk menggunakan wacana yang terinformasi dan persuasif untuk memerangi tantangan ini.
Dia pun meminta media fokus menyoroti pembangunan ekonomi dan proyek budaya negara-negara anggota OKI untuk menginspirasi harapan dan optimisme yang lebih besar.
Baca juga: Sekum Muhammadiyah: Islamofobia Jadi Masalah Jika Dialami Elite(est)