LANGIT7.ID, Jakarta - Emosi yang memuncak dapat memicu perbuatan ataupun perkataan di luar nalar kita. Tak jarang orang yang telah meluapkan emosi dengan amarah kemudian meminta maaf kepada orang lain yang jadi sasarannya.
Oleh karena itu, sebaiknya kita berusaha menahan diri dari emosi yang memuncak agar tidak terjadi api amarah yang dapat merugikan diri kita dan orang lain. Orang yang marah hendaknya memperbanyak ber-ta’awwudz (istiadzah). Memohon perlindungan kepada Allah akan terhindar dari pengaruh bisikan setan.
Dari emosi yang meluap setan hadir untuk mendorong manusia melontarkan kata-kata buruk, kasar, tercela, dan kotor. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
Baca Juga: 9 Ciri Orang Tidak Dewasa Secara Emosional, Salah Satunya Agresif عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا، فَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى انْتَفَخَ وَجْهُهُ وَتَغَيَّرَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ. فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ الرَّجُلُ، فَأَخْبَرَهُ بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: تَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ الشَّيْطَانِ. فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا؟ اذْهَبْ
Dari Sulaimān bin Ṣurad raḍiallahu ‘anhu berkata, “Dua orang laki-laki saling mencaci-maki di sisi Nabi ṣallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang di antara keduanya sangat marah hingga berubah raut wajahnya. Lalu Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh aku mengetahui satu kalimat yang seandainya dia ucapkan, maka marahnya akan hilang’. Lalu orang yang mendengar ucapan beliau bergegas menuju orang yang marah lalu mengabarkan kepadanya sabda Nabi ṣallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata, ‘Berlindunglah kepada Allah dari setan’. Laki-laki yang marah tersebut berkata, ‘Apakah kamu menyangka saya ada masalah, sudah gilakah saya? Pergilah kamu’!”.
Hadits di atas sebagaimana diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kitabnya, Ṣaḥiḥ al-Bukhari; kitab al-Adab, Bab “Mencela dan Melaknat yang Dilarang”, nomor 6048 dan Imam Muslim dalam kitabnya, Ṣaḥiḥ Muslim; kitab al-Bir wa al-Ṣilah wa al-Ādāb, Bab “Keutamaan Orang yang Mengendalikan Dirinya pada Saat Marah”, nomor 2610.
Dari hadis tersebut kita dapat mempelajari betapa pentingnya menahan diri dari emosi yang memuncak agar tidak terjadi amarah yang dapat menimbulkan perkataan kasar. Karena di saat seseorang telah marah di situ lah celah setan masuk untuk mendorong manusia mengeluarkan sifat tercela.
Baca Juga: Toilet Umum Bisa Jadi Sumber Penyakit, Begini AntisipasinyaSabda Nabi SAW lainnya dijelaskan bahwa mereka orang yang kuat bukanlah orang-orang yang menang dalam gulat, melainkan mereka yang mampu menahan diri dari emosi yang memuncak.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Darinya (Abu Hurairah) radiallahu anhu, ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Orang kuat itu bukan orang yang jago bergulat. Akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah." (HR Bukhari).
(zhd)