LANGIT7.ID, Jakarta - Sekolah Alam Prasasti menawarkan sistem pembelajaran yang berkisar dalam konteks pembangunan karakter, yaitu melalui pembinaan tauhid, pengajian, serta aktivitas lainnya. Sekolah alam ini berada dibawah naungan Yayasan Bangun Peradaban Mulia yang berdiri pada 2016, kemudian lembaga Sekolah Alam Prasasti kini berdiri pada 2017.
Pendiri Sekolah Alam Prastasi, Komar Ibnu Mikam menjelaskan selain pembinaan tauhid dan lainnya, Sekolah Alam Prasasti juga memberikan penanaman logika akademik yang diaplikasikan dalam pembelajaran mengenai alam, kepemimpinan, hingga kewirausahaan.
"Kepemimpinan ini diaplikasikan dalam bentuk-bentuk permainan outbound tradisional, kemudian kewirausahaan melalui upaya pemilihan dan pemilahan sampah kemudian dimanfaatkan untuk dijual," kata Komar saat dihubungi
Langit7 baru-baru ini.
Baca Juga: Mengenal Kurikulum Sekolah Alam, Banyak Main Tapi Bukan Main-mainLebih lanjut, dia menerangkan di sekolah alam ini juga ada program konservasi alam dan lingkungan melalui beberapa kegiatan bernuansa alam, mulai dari mandi di kali, mencari ikan, sayur kangkung di pinggir kali, dan sebagainya.
"Kegiatan-kegiatan tersebut biasa kami lakukan dan menjadi kegiatan wajib bagi seluruh siswa di Sekolah Alam Prasasti," ujar Komar.
Menurut dia, Sekolah Alam Prasasti hadir sebagai alternatif sistem pendidikan yang tidak berbiaya tinggi dan berkualitas. Di Sekolah Alam Prasasti ini tidak mengenal ruang kelas sebagaimana lazimnya di sekolah-sekolah formal.
"Ruang kelas adalah tembok, jendela, pintu, bangku, meja, dan papan tulis Sementara di sekolah alam, kelas tidak mesti berbentuk tembok, atau gedung, karena di sekolah alam semesta ini adalah kelas," ujar dia.
"Kita bisa belajar di pinggir kali, sawah, lalu di bawah pohon sukun, beringin dan dimana pun yang membuat siswa nyaman, bahagia kita bisa belajar," imbuhnya.
Kedua, sekolah alam tidak ada seragam karena seragam membutuhkan biaya untuk membeli seragam, maka menurutnya di sekolah alam tidak perlu seragam."Sendal, sepatu apa aja bahkan nyeker pun silahkan yang penting masuk sekolah. Kemudian, ketiga di sekolah alam kami tidak mengenal kurikulum seperti lazimnya di sekolah formal ada kurikulim, dari diknas atau buku-buku dan lembar Kerja Siswa (LKS)," katanya.
Komar menuturkan, kurikulum bagi sekolah alam adalah alam. Di mana siswa di sekolah alam dapat belajar dengan apa yang ada di alam, atau dikenal dengan istilah pengembangan dari apa yang ada di wilayah setempat.
Baca Juga: 4 Aktivitas Asyik Bareng Anak saat Berkemah Libur Sekolah"Kita bisa belajar dari apa saja, dari pohon asam, kedondong, mangga kemudian kita bisa belajar dari sungai, dari matahari, rembulan. Selain itu, kita belajar tentang awan, serta tentang bintang-bintang di langit," ujarnya.
Menurut dia, semua itu menjadi bahan belajar atau kurikulum bagi sisa di Sekolah Alam Prasasti. Kemudian, yang keempat, di sekolah alam juga tidak mengena standardisasi cerdas.
"Cerdas bagi kita adalah semua anak cerdas, hebat dan setiap anak itu adalah ciptaan terbaik dari Sang Pencipta, jadi tidak ada yang bodoh. Apalagi hanya karena tidak sanggup mengerjakan soal matematika anak dikatakan bodoh," tuturnya.
Komar juga menegaskan, setiap anak hebat dan bisa berbuat apa saja. Setiap anak punya bakat dan potensi masing-masing diri dengan kelemahan dan kelebihan.
"Kelima, di sekolah alam juga fleksibel artinya tidak mesti dia harus berangkat sekolah setiap hari. Bisa juga karena kebutuhan keluarga dia harus membantu keluarga dan yang terpenting ada laporan," kata dia.
Keenam, di sekolah alam juga tidak mengenal standardisasi guru. Komar menyatakan, guru tidak harus lulusan S1 dan seterusnya. Sepanjang orang itu mau mengabdikan ilmunya, dekat dengan alam dan anak untuk berbagi pengalaman, dia sudah bisa menjadi guru atau staf pengajar.
Selanjutnya, ketujuh di sekolah alam juga membahas semua pelajaran secara komprehensif atau menyeluruh. Mulai dari tauhid, ilmu pengetahuan alam, teknologi, serta aspek-aspek sosial dan sebagainya.
Baca Juga: Aisyah, Sosok Istri Nabi sebagai Tenaga Medis Mumpuni"Jadi tidak hanya satu disiplin ketika kita membahas satu tema, tapi berbagai disiplin kita bahas. Itulah yang membuat kami memilih konsep sekolah alam sebagai alternatif pembelajaran untuk anak-anak di Yayasan Bangun Peradaban Mulia," tuturnya.
Sekolah Alam Prasasti ini berada di Kampung Piket Indah RT 001/RW 015 Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Saat ini, terdapat 48 siswa, 32 siswa menginap dan 16 siswa pulang pergi.
"Kelebihan siswa yang menginap adalah segala pembelajarannya lebih terukur dan tertatar, juga pembinaan karakternya kita bisa intensif mengawasi mereka selama 24 jam, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi," ujarnya.
Selain itu, hal-hal mengenai bina diri lainnya pihaknya lebih bisa mengukur, mulai dari kemandirian, gaya bicara, perbuatan, perilaku dan sebagainya. Sehingga siswa yang menginap lebih intensif, positif, dan pengaruhnya lebih bagus dari siswa yang pulang pergi.
"Harapan kami ke depan semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar, sehingga anak-anak bisa belajar dan menemukan bakat dirinya. Kemudian bisa mengasah kelebihan dirinya menjadi sesuatu yang posistif, di masa depan mereka," ujarnya.
Tak hanya itu, Komar juga berharap ke depan siswanya bisa menjadi pemimpin di bumi dengan karakter mulai yang dimiliki, serta mempunyai dasar kemandirian dengan kewirausahaan dan kepemimpinan.
"Selain itu, juga berperilaku yang ramah lingkungan jadi bila dia menjadi pebisnis diharapkan menjadi pebisnis yang tidak merusak alam, ketika menjadi Aparatur Sipil Negara, dia menjadi pengabdi negara yang tetap memperhitungkan alam sebagai bagian penting masa depan," tuturnya.
Baca Juga: Toilet Umum Bisa Jadi Sumber Penyakit, Begini Antisipasinya(zhd)